Siapa Suka Sebal Sama Saham Suspend?

Kadang kita lagi asik-asiknya mengikuti sebuah saham yang lagi ngetrend, naik terus, sudah hitung yang akan didapatkan, tau-tau bursa melakukan suspend terhadap saham tersebut? Begitu dibuka, sahamnya cuma naik sedikit lagi kemudian melorot lebih cepat dibanding melepas celana?

Keluarlah segala macam teori. Ini konspirasi bandar dan orang bursa. Bursa lagi mencari mangsa. Dan segala teori-teori yang merugikan ritel dan menguntungkan big fund. Apakah yang sebenarnya terjadi?

Untuk melihat akhir cerita, di mana biasanya korban ada di ritel, kita harus melihat awal cerita dulu. Dari sisi sahamnya terlebih dahulu. Kita semua tahu bahwa saham adalah bukti hak milik terhadap sebuah perusahaan. Jadi harga dari saham mewakili harga dari sebuah perusahaan. Dan berapakah harga sebuah perusahaan? Di artikel ini kita tidak membahas mengenai cara menghitung harga wajar sebuah perusahaan. Tapi kita bisa memakai contoh berikut ini.

Kita ke pasar mobil, melihat mobil yang bagus. Nilainya Rp. 100 juta. Kita merasa murah. Lalu melakukan penawaran. Ternyata ada juga orang lain yang ingin menawar. Akhirnya harga melejit sampai Rp. 1M. Masih wajarkah harga mobil tersebut? Rasanya tidak. Beberapa waktu lalu dan sekarang, bentuk dan isi mobil adalah sama. Logisnya, jika isi sama maka nila mobil juga tidak akan berubah jauh. Tapi pihak penjual mana peduli dengan hal ini. Yang penting profit semaksimal mungkin.

Nah, ini sama dengan saham yang dikejar-kejar. Ketika harga merangkak naik dalam waktu cepat, atas dasar apa nilai perusahaan akan bergerak dengan kecepatan yang sama? Biasanya, harga naik didorong oleh rumor yang tidak jelas, Ataupun sesuatu yang bisa membuat nilai perusahaan naik di kemudian hari yang jauh. Oleh sebab itulah, bursa melakukan suspend terhadap saham ini. Tujuannya supaya investor menggunakan waktu jeda ini untuk berpikir, apakah harga sahamnya masih sama dengan nilai perusahaan, dan layak diburu?

Seharusnya, kalau benar saham ada nilainya, maka dengan meningkatnya harga, berarti semakin tinggi. Dan harga semakin rendah, maka risiko semakin rendah. Apakah investor memikirkan hal ini? Rasanya tidak. Harga naik berarti peluang meraup untuk muncul, sama seperti contoh mobil itu. Tapi ingat, kita ini dalam posisi pembeli atau penjual? Apakah kita mengendalkan situasi, atau cuma ikut arus?

Dan kalau mentalitas kita naik turun melihat pergerakan harga, coba tanya-tanya, kita lagi di kasino atau lagi di investasi? Dalam investasi, seharusnya aktifitasnya membosankan. Coba saja kita berivnestasi di kebun, properti. Melewati hari melihat perkembangan investasi kita akan benar-benar membosankan. Apakah kita setiap hari menghitung pertumbuhan tinggi pohon? Atau menghitung berapa langkah kaki yang sudah diambil penyewa properti kita? Justru karena membosankan, maka kita bisa melakukan hal-hal lain yang lebih berkualitas. Apa serunya melihat angka yang berubah-ubah nilai atau warnanya?

  • Save

Gambar di atas adalah bubble dari tulip mania yang terjadi di Belanda di abad pertengahan. Mungkin grafik yang sama kalau ada perbandingan harga ikan luohan, pohon atrium, dan baku akik. Semua ketika mendaki, tidak pernah ada rem pengamannya. Sehingga ketika turun, tidak ada remnya juga. Apalagi aktifitas di bursa yang cuma mengandalkan tombol buy/sell.

Ngomong-ngomong, batas Auto Reject kiri dan kanan adalah pengaman pertama untuk kita berpikir rasional, apakah layak sahamnya dihargai sekian? Jika AR sudah tidak efektif, maka bursa akan secara manual melakukan tindakan.

Dan jika kita terjebak di situasi ini, yang perlu ditanyakan, mengapa kita tertarik untuk membeli di awal? Jika rumor/berita menyatakan demikian, apakah benar akan bergerak sebesar efek rumor/berita itu?

Silakan kerjakan PR masing-masing.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link