Opini

 

  • Save

 

Opini

Setelah membaca bab 17 One Up on Wall Street, ada 1 hal yang sepertinya ingin disampaikan Peter Lynch.

Bahwa di pasar saham ada begitu banyak berita dan analisa dari banyak analis yang kita dengar. Dan semuanya hanyalah bentuk opini dari masing-masing individu. Mereka melihat sebuah kejadian dan memberikan pendapat. Atas dasar apa kita harus mempercayai mereka?

Mereka orang-orang terpelajar, punya gelar banyak, punya pengalaman, mana mungkin salah. Ditambah pakai jas kalau berbicara. Sebentar dulu, dikutip juga dari buku One Up, di Amerika ada 50.000 analis, ahli ekonomi, dan berbagai profesional lainnya. Jika mereka bisa menebak arah market dengan tepat 2x berturut-turut saja, seharusnya mereka sudah ada di Hawaii bersantai. Dengan mereka yang masih bergantung pada gaji bulanan, seharusnya sudah mengajarkan kita satu dua hal.

Mereka hanyalah memberi opini berdasarkan pengalaman mereka. Apakah pengalaman mereka pasti berguna untuk kita? Harus dicek lagi. Kami diajarkan mengenai aturan lihat dan buktikan sendiri. Jangan menelan bulat-bulat apapun kata orang. Apakah ini bisa diterapkan di investasi?

Sayangnya, lebih banyak yang tidak terlalu antusias untuk mandiri. Lebih banyak yang hanya bergantung pada lingkungannya. Apapun kata lingkungannya, pastilah benar. Mungkin ya mungkin tidak. Bagaimana kalau lingkungannya setiap hari memberi kabar buruk. Dow merah. Eropa merah. Eido merah. Rupiah merah. Minyak merah. Celana Warren Buffet juga merah.

Sayangnya lagi, seperti bahasan bab 17, seberapa kecilpun efek opini seseorang, ini sudah pasti akan diingat-ingat. Misalnya kalau berdasarkan teknikal analis dikatakan IHSG akan menuju new low, tidak berprospek, terlalu berisiko, apa yang akan kita lakukan jika menjumpai IHSG merah dalam 1 hari seperti beberapa hari yang lalu? Langsung gambaran IHSG new low muncul kemudian panik dan menjual semua?

Dan berapa banyak orang yang memprediksi rupiah akan ke 17.000  dengan berbagai metode?

Sebentar dulu, coba ditelaah, apa benar situasi akan membuat separah itu? Atas dasar apa semua akan terjadi? Atau itu hanya opini sekelompok analis berdasarkan sebuah teori. Apakah benar sudah diuji teori itu bisa digunakan? Coba bawa indikator penebak harga masa depan ke mangga dua dan katakan ke pedagang di sana : Bos, menurut indikator ini, kalau harga baju anda 3 hari berturut-turut segini, maka besok anda bisa menjual dengan harga segitu. Apakah bisa? Jelas tidak, karena baju itu ada nilai wajarnya.

Sama juga di saham, ada nilai wajarnya yang menjadi pembatas. Baik ketika naik ataupun turun. Nah, opini inilah yang kadang menggerakkan market ke arah sesuai opini. Karena itu Benjamin Graham, guru Warren Buffet berkata, jangka pendek pasar saham adalah mesin voting, jangka panjang pasar saham adalah mesin timbangan.

Artinya jangka pendek, pasar akan bergerak sesuai suara mayoritas, dan suara mayoritas tergantung mood masing-masing. Jika semua sekuritas sepakat tidak memberikan bonus ke analisnya, kira-kira apa rekomen yang muncul? Ekonomi Indonesia buruk karena perusahaan mengetatkan pengeluaran? Sedangkan di jangka panjang, pasar bergerak sesuai kualitas pasar itu sendiri.

Bagaimana kalau opini orang benar. IHSG new low. Bisa saja kan? Pertanyaan berikutnya, setelah new low terus apa? Apakah selamanya akan di sana? Tentu tidak. Karena IHSG mencerminkan ekonomi Indonesia. Ketika new low artinya ada yang perlu diperbaiki dari ekonomi ini. Karena itulah banyak paket kebijaksanaan dikeluarkan. Berarti ekonomi bergerak maju lagi. Yang artinya ada potensi new high lagi.

Terus kalau sudah ada posisi bagaimana? Jika ada uang ya beli lagi kalau fundamental perusahaan masih baik. Kalau tidak, bersabar adalah kuncinya. Contoh, saham ACES ketika kami beli ada di 800, 700, 600, 500. Jatuh ke 475. Apakah harus panik dan jual semua? Untungnya tidak. Dan harga sudah balik ke 800 lagi.

Jika saja ada metode untuk memberi tahu masa depan. Sayang sampai sekarang sepertinya belum ada. Mau dengan cara kuno atau modern. Pernyataan Peter Lynch cukup jelas. Kalau ada yang bisa melihat masa depan, ngapain lagi orang itu masih menerima gaji dan bukannya menggunakan kepintarannya memupuk kekayaan. Apakah orang ini tidak melihat masa depannya sendiri?

Apakah tulisan di atas benar semua? Balik lagi ke judul. Ini hanya opini, benar atau tidak, berguna atau tidak, datang dan buktikan sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link