Demi Hari Tua

  • Save

 

Demi Hari Tua

Apakah kita sudah mempersiapkan hari tua kita. Bagaimana kita mempersiapkannya. Bekerja sampai tidak bisa? Berbisnis? Menabung? Apalagi yang bisa dilakukan?

Bagaimana kalau ada cara lain. Yang 3 cara di atas bisa dilakukan sekaligus. Kita bekerja keras, kemudian menabung. Setelah tabungan cukup, biasanya kita membuka bisnis. Bisa bidang baru, atau sesuai dengan pekerjaan kita lagi. Setelah bisnis mulai, kita bekerja keras lagi, dan hasil dari bisnis kita tabung. Dan hari tuapun tiba.

Kira-kira seperti itu skenario yang terjadi pada umumnya bukan.

Kita telaah satu persatu. Bagian bekerja keras jelas harus ada, kecuali kita anak orang kaya yang akan mewarisi kerayaan bisnis orang tua atau orang yang sangat beruntung. Setelah bekerja kita tentu uangnya kita tabung. Banyak bank pilihan. Kita pakai bank BCA sebagai contohnya.

Untuk bunga bank BCA kira-kira sebesar 2% per tahun. Dan untuk deposito adalah sebesar 5.25% per tahun. Dengan pajak 20%, maka bunga bersih kita adalah 1.6% dan 4.2%.

Baru saja diumumkan inflasi setahun terakhir adalah 4.14%. Artinya bunga deposito kita habis dimakan inflasi.

Apalagi kalau suatu hari situasi bunga negatif terjadi. Apakah mungkin? Kita tidak tahu. Tapi Jepang baru saja mengumumkan hal itu.

Jadi uang tabungan kita, tujuan utamanya adalah untuk meproteksi dari nafsu belanja kita. Dan setelah terkumpul, barulah digunakan untuk sesuatu yang lebih besar. Apakah beli rumah atau memulai bisnis.

Kira-kira berapa persen peluang kita bisa berhasil dalam memulai bisnis. Apa kapasitas kita dalam berbisnis. Pernahkah kita survei ke lingkungan kita, berapa banyak bisnis yang berhenti setelah 1 tahun beroperasi, dan berapa banyak yang berhasil.

Dari beberapa point di atas, bagaimana kalau kita menabung di bisnis yang sudah teruji. Yaitu kita menabung di saham BCA. Pertanyaan sederhana. Jika kita berani menaruh uang di bank BCA, mengapa tidak berani di sahamnya.

Misalnya setiap bulan kita menaruh uang di deposito, mengapa tidak memindahkan ini ke saham BCAnya. 1 lembar BCA sekarang sekitar 13.000. Berarti sekali beli dibutuhkan dana sekitar 1.300.000 rupiah. Misalnya uang kita tidak cukup untuk membeli, kita bisa saja mendepositokan uang kita dulu, setelah terkumpul barulah melakukan pembelian.

Bagaimana dengan penurunan saham? Ini bisa saja terjadi. Tapi untuk jangka panjang, selama kinerja perusahaan baik-baik saja, maka sahamnya akan pulih kembali. Sebagai gambaran, krisis Amerika di 2008 menyeret saham BCA jatuh dari 3.500 ke 2.000, alias turun 42%. Berapa saham BCA hari ini? Apalagi kalau kita melakukan nabung setiap bulan, berarti kita bisa membeli sahamnya di harga 2000an?

Ini salah satu cara pandang kita terhadap saham adalah bisnis, bukan cuma gambaran angka, grafik, kertas, atau meja judi. Sebuah bisnis, jika fundamentalnya tidak mengalami masalah, maka penurunan adalah kesempatan membeli lebih banyak.

Kalau takut turun dan belinya ketinggian, kita bisa mengakali dengan menunggu momen yang ada. Yaitu ketika sahamnya turun dalam. Untuk itu bisa dibaca di sini.

Five second valuation
http://goo.gl/6agyom

Setelah itu, akan timbul pertanyaan. Apa saja yang bisa kita dapatkan di investasi ini. Yang pertama jelas capital gain. Yaitu keuntugan dari selisih harga. Saham BCA bahkan jika kita beli di harga paling tinggi 2008 di 3500, sekarang telah memberi keuntungan 270%. Sekitar 30% per tahun. Tentu tidak bisa diharap setiap tahun saham BCA akan naik 30%. Kadang bisa di bawah itu atau minus, dan kadang bisa lebih. Kita berbicara tentang jangka panjang.

Keuntungan kedua adalah dividen gain. Tahun lalu BCA membagi dividen sebesar 150. Atau sekitar 1.1% dari modal beli kita sekarang. Terlihat kecil. Bagaimana dengan orang yang beli 10 tahun yang lalu. Harga saham BCA ada di kisaran 1.800. Jadi dividen mereka hari ini sudah setara dengan bunga 8.3%. Cukup lumayan. Jadi pembelian hari ini adalah untuk 10 tahun kemudian. Atau kapanpun masa pensiun kita tiba. 5 tahun? 10 tahun? 20 tahun?

Bagaimana kalau kinerja BCA tidak sebagus sebelumnya. Memang ada risiko seperti itu. Tapi kuat mana, perusahaan BCA atau bisnis yang kita rintis. Plus, diingat kembali, isi perusahaan BCA adalah karyawan yang rajin. Jika tidak rajin tentu saja tidak ada kenaikan gaji atau malah dipecat. Jika karyawan rajin, apakah ada kemungkinan kinerja BCA naik?

Tentu saja, melakukan ini dibutuhkan beberapa hal. Yang pertama adalah komitmen kita. Jangan cuma setor 2-3x setelah itu uangnya untuk keperluan lain. Atau begitu lihat harga saham turun, sudah takut duluan. Yang kedua adalah, seberapa yakin kita akan masa depan ekonomi Indonesia? Mengenai ini, bisa dibaca di artikel sebelumnya tentang pertambahan penduduk.

Saham BCA hanyalah contoh. Kita bisa menaruh di saham apapun selama kita mengerti risiko dan reward yang dihadapi.

Jadi, mari mulai memikirkan dana pensiun kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link