Net Interest Margin

  • Save

 

Net Interest Margin

Baru saja investor menyambut bulan penuh bahagia. IHSG break downtrend. BI Rate turun 2x berturut-turut. Tiba-tiba ada berita tentang bakal membatasi NIM. Apalagi ini?

Segera saja berita ini beredar dengan cepat. Jaman informasi memang begitu. Padahal yang menyebar juga belum tentu mengerti apa yang diberitakan. Ini sama persis seperti bahasan . Ada satu waktu, tiba-tiba semua investor di Amerika meributkan tentang M-1, seakan-akan penentu masa depan bursa Amerika ada di tangan M-1. Padahal menurutnya, M-1 yang dikenalnya adalah senjata yang dipakai tentara Amerika di perang Vietnam. Mengapa setelah balik, M-1 menjadi istilah ekonomi untuk suplai uang?

Karena hanya selingan, beberapa bulan kemudian isu tentang M-1 menghilang digantikan isu lain. Perang harga minyak oleh OPEC. Situasi sama seperti sekarang kan? Manusia selalu mencari alasan untuk kuatir. Padahal investasi harusnya mencari alasan mengapa ada prospek kenaikan. Cara pandang ini yang perlu dibenahi. Itu sebabnya kami suka dengan buku One Up. Membahas cara pandang investasi dari seorang investor ritel. Walau yang menulis adalah salah satu fund manager terhebat di Amerika.

Skenario yang membuat kuatir bisa berbeda-beda, tapi perasaan investor selalu sama. Selalu timbul fear and greed. Selalu diliputi kekuatiran akan masa depan, dan dicengkram keserakahan ingin lebih. 2 sifat yang merusak, karena membuat kita tidak bisa berpikir jernih.

Tapi banyak bahasan, tentu saja kita perlu setidaknya memahami apa itu NIM (Net Interest Margin.) NIM kira-kira adalah selisih antara uang yang didapat dari bank dengan meminjamkan kredit kepada nasabah dengan uang yang harus dibayar bank kepada para depostioan dan jenis-jenis lainnya. Dengan kata lain, kalau di industri pada umumnya, NIM adalah kata lain dari laba kotor. Yang dibagi dengan aset yang menghasilkan pendapatan itu.

Sekarang kita sudah sedikit memahami tentang NIM. Bagaimana dengan apa yang akan dilakukan bank? Apakah akan duduk diam melihat margin laba mereka turun? Jelas tidak. Sebagai contoh saja, harga batubara telah turun hampir 50%, tapi tetap ada perusahaan unggul yang sanggup mencetak laba, dan ada perusahaan yang sudah semaput sekarang ini.

Demikian juga untuk usaha perbankan. Bank yang baik jelas akan bisa bermanuver melewati masalah ini. Apakah dengan memotong biaya yang harus dikeluarkan, membatasi bunga deposito, atau hal-hal lain yang bisa dilakukan. Perusahaan itu terdiri dari kumpulan manusia. Dan manusia yang masih ingin maju tentu tidak akan tinggal diam melihat penurunan. Karyawan di dalamnya akan berusaha keras supaya tahun depan gaji dan bonus mereka naik. Jadi selalu ada yang akan dilakukan.

Ini faktor luar yang tidak akan bisa kita utak-atik. Yang bisa adalah bagaimana reaksi kita sendiri? Apakah tiap muncul berita, selalu harus mengambil sikap panik? Seakan-akan berita ini adalah penentu segalanya untuk masa depan portofolio kita? Tahun lalu kita mengenal pelemahan ekonomi, tahun sebelumnya lagi tentang China slow down, sebelumnya tentang tappering, tahun sebelumnya tentang QE, dan seterusnya.

Sedangkan ke depan? Tidak ada yang tahu, tapi karena dunia ini dinamis, makanya akan selalu ada hal yang terjadi. Hal yang bisa berefek baik atau buruk, kita tidak tahu, tapi yang pasti, umat manusia selalu akan bertahan. Sejarah sudah membuktikannya. Ratusan perang, ratusan , banyak penyakit bermunculan, tidak ada yang bisa menghalangi kemajuan manusia, yang bahkan sudah mendarat di bulan.

Rasanya tanpa perlu dipaksa turun, seharusnya karena persaingan bisnis, bank juga akan menjaga bagaimana nasabahnya tidak kabur ke tempat lain, apalagi sekarang sudah masuk MEA. Ops, tambah 1 lagi hal yang perlu dikuatirkan.

1 hal yang pasti, kami optimis dengan masa depan ekonomi Indonesia, ditambah penurunan BI Rate, yang biasanya adalah signal bagus untuk ekonomi. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau pejabat negara menyatakan semua ini cuma wacana? Jadi apa gunanya kuatir?

Dan yang terakhir, setiap kali ada masalah, kita baru ada niat dan kesempatan belajar bukan?

Be a fearless investor

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link