Reshuffle Kabinet

  • Save

 

Reshuffle Kabinet

Pada suatu waktu, ada seorang petani yang sedang istirahat di bawah pohon. Tiba-tiba ada seekor kelinci yang berlari dan menabrak pohon itu. Kelincinya pun mati. Petani ini kemudian membawa kelinci ini pulang ke rumah, meninggalkan ladangnya. Dia memakan daging kelinci untuk makan malamnya, dan menjual kulitnya ke pasar. Petani ini berpikir “Jika saja setiap hari ada kelinci seperti ini, maka saya tidak perlu bekerja lagi.”

Maka keesokan harinya, petani balik ke pohon itu dan menunggu kemunculan kelinci lainnya. Dia melihat beberapa kelinci, tapi tidak ada yang menabrakkan diri ke pohon. Dia berpikir, “Ok, mungkin bukan hari ini. Tapi selalu ada hari esok.” Sementara itu, ladangnya menjadi rusak karena tidak terawat.

Demikianlah cerita kuno dari China ini. Sekarang ke reshuffle kabinet.

Hari ini IHSG naik tajam kemungkinan karena sentimen dari reshuffle kabinet dan juga beberapa laporan keuangan yang bagus. Apakah ada yang panik buying? Mudah-mudahan tidak. Karena kita sebagai investor harus melebihi ini. Kita selalu bersiap diri, dan bukan sentimen atau perubahan harga yang menjadi keputusan kita membeli. Kalau menunggu hingga terjadinya perubahan harga dan sentimen, biasanya kita akan ketinggalan kereta. Dan kalau sudah ketinggalan, biasanya emosi kita akan terganggu.

Biasakanlah membeli karena 4 hal yang biasa dilakukan investor. Membeli karena perusahaannya bagus, punya prospek cerah, dikelola orang jujur, dan dijual dengan harga diskon. 4 hal yang membuat Warren Buffet menjadi salah satu investor terkaya di dunia. Yang penting kita fokus dalam melakukan. Mungkin saja kita bertemu kejadian tidak terduga dari keempat point di atas, perusahaan menjadi buruk, atau prospek menjadi suram, tiba-tiba manajemen melakukan kecurangan, atau valuasi kita ternyata salah. Tapi kita cukup belajar dari kesalahan. Dengan belajar, maka kapasitas kita akan naik, dan level kita akan berbeda. Tidak mungkin kita menyelesaikan masalah dengan level pemahaman yang sama dengan masalah itu. Itu alasan kita harus belajar.

Apakah mungkin di dunia ada metode lain yang bisa berhasil? Bisa jadi. Tapi untuk apa membuang waktu mencoba. Sudah ada yang teruji. Kita tinggal mendalaminya. Mencari berlian selalu menggali ke dalam kan? Bukan terus menerus mencari di permukaan. Dari satu seminar ke seminar lain mencari jurus paling akurat. Lupakan tentang itu. Kita hanya membuang waktu kita. Fokus saja dengan cara paling sederhana. Membeli barang ya harus tahu kualitas barang. Kalau tidak, kita akan gampang tertipu karena tidak bisa membedakan emas dan kuningan.

Kembali ke masalah sentimen. Memang sentimen itu menarik. Karena bisa memberi kesempatan. Tapi seperti maksud cerita kelinci, kejadian di luar tidak bisa kita kontrol. Kita tidak bisa mengharap tiap hari ada reshuffle supaya IHSG naik, atau brexit supaya IHSG turun. Itu adalah hal di luar kendali kita. Dan kita harus menebak lagi apa reaksi investor yang lain terhadap kejadian ini.

Dan berharap dengan sentimen adalah salah satu bentuk market timing. Sampai hari ini, tidak ada bukti nyata ada orang yang bisa melakukan dengan konsisten. Kalau benar ada, penghuni Forbes sudah penuh dengan orang seperti mereka. Dan mencoba melakukan market timing akan melelahkan. Karena seperti petani yang harus terus menerus mengawasi kejadian apa berikutnya yang akan muncul, investor juga akan melakukan hal yang sama, dan itu pada akhirnya membuat kita berubah dari investor menjadi penjaga toko.

Dan berkaitan dengan ini, di bab terakhir buku One Up on Wall Street, Peter Lynch membahas tentang fenomena ini.  Silakan dipelajari apakah berguna. Ingat, buku ini ditulis di tahun 1990an tentang bursa Amerika Serikat.

29 – Epilog, Tertangkap Dengan Celana Utuh Terpakai

Saya memulai buku ini dengan cerita liburan, jadi mungkin saya sebaiknya mengakhirnya dengan satu. Di Agustus 1982, Carolyn dan saya dan anak-anak berkendaraan menuju Maryland untuk menghadiri pernikahan adik Carolyn. Ada 8-9 peberhentian di antara Boston dan pernikahan itu. Ada ratusan perusahaan terbuka yang bisa diperdagangkan di antara rute ini.

Carolyn dan saya baru saja memutuskan untuk membeli rumah baru. 17 Agustus adalah hari terakhir kami bisa memutuskan lanjut atau tidak tanpa kehilangan uang muka. Saya mengingatkan ke diri saya pembelian ini setara dengan gaji 3 tahun pertama saya di Fidelity.

Pembelian rumah ini membutuhkan keyakinan yang mendalam akan masa depan pendapatan saya, yang mana sangat tergantung pada masa depan perusahaan di Amerika.

Akhir-akhir ini moodnya sangat jelek. Suku bunga mencapai dua digit, menyebabkan beberapa orang merasa kita sama buruknya dengan Brazil, di mana yang lain puas kalau kita hanya akan sama buruknya dengan kondisi 1930an. Beberapa pejabat mulai berpikir untuk belajar memancing, berburu, bertani, supaya bisa di depan dari jutaan para pengangguran yang akan masuk hutan. Dow Jones ada di range 700an, dan dekade sebelumnya ada di 900an. Banyak orang berekspektasi akan lebih buruk.

Jika musim panas 1987 adalah optimis, maka musim panas 1982 adalah lawannya. Kami menguatkan diri dan memutuskan untuk tidak membatalkan rumah ini. Beberapa pemikiran menyadarkan bahwa rumah ini milik kami. Bagian sulitnya adalah bagaimana kami akan membayarnya, secara jangka panjang.

Mengabaikan ini, saya berhenti untuk mengunjungi Insilco, di Meriden, Connecticut. Carolyn dan anak-anak menghabiskan waktu 3 jam bermain video games. Ketika saya menyelesaikan meeting saya, saya menelepon kantor. Mereka berkata bahwa pasar naik 38.8 pts. Dimulai dari level 776, itu setara dengan 120 point dalam 1 hari di musim panas 1988. Tiba-tiba orang menjadi bersemangat. Bahkan mereka lebih bersemangat lagi di 20 Agustus, ketika pasar naik lagi 30.7 pts.

Dalam satu malam semuanya tiba-tiba berubah. Orang-orang berputar balik dari perkemahan mereka di hutan berbondong-bondong membeli semua saham yang dapat mereka beli. Mereka berebutan untuk masuk kembali ke pasar bull. Ada banyak panik buying untuk berinvestasi di semua perusahaan yang minggu lalu dianggap sangat menyuramkan.

Tidak ada yang perlu saya lakukan, kecuali melakukan bisnis seperti biasa. Saya full invest – sebelum dan sesudah rebound gila-gilaan ini. Saya selalu full invest. Ada perasaan menyenangkan ketika anda tertangkap dengan celana masih utuh terpakai. Lagipula, saya tidak bisa balik untuk membeli saham. Saya harus mengunjungi Uniroyal di Middlebury, Connecticut, dan kemudian ke Amstrong Rubber di New Haven. Hari berikutnya saya harus berhenti di Long Island Lighting di Mineola, New York, dan Hazeltine di Commack. Hari setelah itu adalah Philadelphia Electric dan Fidelcor di Philadelphia. Jika saya bertanya cukup banyak, mungkin saya akan menemukan sesuatu yang baru. Dan saya tidak mungkin meninggalkan pernikahan adik ipar aya. Anda harus menetapkan pioritas anda dengan benar, jika anda ingin mendapat hasil yang baik di saham.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link