Value Investing – Why

  • Save

 

Value Investing – Why

Berikut adalah salah satu portofolio kami. Hasil dari pembelian kemarin-kemarin. Kalau sekarang posting, sepertinya sudah telat. Seharusnya dipost pas kami melakukan pembelian biar semua bisa ikut profit. Sayangnya, ide itu hampir pasti tidak jalan. Jika kita tidak memiliki mindset yang tepat, dijamin tindakan kita juga tidak akan tepat. Dan kalau tindakan kita tidak tepat, maka hasilnya juga tidak akan tepat.

Ini bahkan terjadi pada siapapun, termasuk keluarga yang ketika kami bilang, IHSG lagi murah, tambah dana untuk beli. Jawabannya, posisi sekarang saja masih rugi, masak mau tambah dana, yang ada harusnya berhenti. Baru-baru ini orangnya malah tambah dana ketika IHSG sudah di atas 5000. Dananya masih kita tahan dalam bentuk cash karena bagi kami di list belum ada yang menarik. Tapi fenomena ini sudah ditulis Peter Lynch di buku One Up on Wall Street pada tahun 1990an. Ketika turun investor panik, ketika naik investor euphoria, pada akhirnya investor ritel selalu salah moment.

Tapi kali ini kita tidak bahas panjang lebar tentang masalah mindset dan mental. Sudah banyak artikel untuk yang itu. Karena bagi kami, bukan seberapa banyak yang kita tahu yang akan menentukan kesuksesan kita, tapi seberapa banyak yang kita kerjakan dari yang kita ketahui. Dan seberapa banyak yang kita kerjakan, semuanya tergantung dari mental kita. Kalau tidak mengerjakan apa yang kita tahu, akhirnya pengetahuan hanya akan menjadi teori dan akan dibahas di satu seminar ke seminar lain.

Kali ini kami akan membahas mengapa kami melakukan pembelian untuk tiap saham. Mengenai kapan menjual, kami akan membahas di artikel lain. Isi artikel ini bukan untuk menunjukkan saham ini dan itu layak invest. Kalau semua yang mengikuti line@ Saham-Indonesia akan tahu, kami jarang sekali membahas tentang stockpick. Di bawah nanti ada penjelasan mengapa. Fokus kami adalah membuat investor mandiri tanpa ketergantungan pada alat atau orang. Kalau melulu memberikan stockpick, pada akhirnya kami sendiri harus aktif bekerja mencari saham pilihan untuk yang lain. Dan ini berlawanan dengan mental investor.

Kita mulai saja. Yang pasti semua saham tidak maksimal karena sebelumnya kami menggunakan MOS terlalu kecil. Untungnya khusus portofolio ini kami KONSISTEN menambah dana supaya bisa membeli terus. Sesuai salah satu buku yang kami baca 42 aturan yang nyaman, kita harus bisa menjelaskan mengapa kita membeli kepada anak kecil umur 10 tahun dalam waktu 2 menit. Demikianlah penjelasan nya :

ACES
Kami mulai membeli ketika kinerjanya konsisten. Dan kami tetap memegangnya ketika dollar naik tapi efek kepada perusahaan hampir tidak ada. Kita tahu ketika harga bergerak berlawanan dengan kinerja, maka kesempatan telah datang. Sampai hari ini pun kami masih yakin dengan prospek perusahaan yang kami dapatkan dari public expose mereka.

AISA
Ini adalah pembelian terbesar kami. Ketika isu perusahaan mengalami masalah dan harga tertekan selama berbulan-bulan, dan tiap bulan kami menambah dana, fokus kami hanyalah AISA. Mengapa berani? Ketika masalah muncul, jelas ada ketakutan juga, bagaimana kalau itu benaran terjadi. Tapi untungnya pada moment itu kami sudah membaca buku One Up. Kalau perusahaan ada isu, daripada percaya rumor tidak jelas, maka lebih baik langsung menghubungi perusahaannya untuk meminta kejelasan. Untungnya sampai hari ini perusahaan masih bisa dipegang kata-katanya. Mudah-mudahan akan tetap begitu ke depannya. Dan AISA memberikan kesempatan begitu luas selama berbulan-bulan untuk dibeli. Setiap kami menambah dana bulanan, pilihan membeli langsung ke AISA. Pilihan yang gampang.

JSMR
Ini adalah pembelian terbaru kami. Ketika isu brexit muncul dan membuat orang panik. Pikiran kami cuma sederhana, bahkan kekacauan di negara Inggris, apa bisnis yang kecil pengaruhnya. Pilihan kami adalah jalan tol, karena walau Inggris bubar pun, orang di Indonesia tetap akan menggunakan tol untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Dan kita tidak mungkin bersaing dengan tol dan membangun di sebelahnya jika kita tidak suka dengan tarifnya.

LPCK
Ini adalah pembelian yang kami lakukan setelah mengunjungi public exposenya dan berdiskusi dengan teman-teman di grup. Kami merasa perusahaan ini paling siap untuk menghadapi persaingan bisnis properti di daerah sana. Kami suka akan cerita perusahaan ini. Dan tugas kami tinggal memantau apakah ceritanya masih masuk akal atau tidak. Dan mengenai LPCK, ini adalah salah satu saham yang kami beli dan tidak pernah rugi. Ketika pertama kali beli, kami cuma mendapat profit 3% karena ketidak sabaran, padahal harga sahamnya naik jauh setelah dijual. Pembelian kedua kami mendapat profit 30%, dan sekarang pembelian ketiga. Apakah profit akan meningkat 10x nya lagi menjadi 300%? Tidak akan ada yang tahu.

PGAS
Inilah salah satu saham dengan multiple error. Sampai sekarang kami masih memegangnya karena masih melihat potensi bisnisnya yang seperti JSMR. Satunya menghantar mobil dari titik A ke B, satunya menghantar bahan bakar gas. Kesalahan pertama adalah ketika menghitung valuasi, laporan keuangan PGAS dengan kurs dollar harus dikonversi ke rupiah. Ternyata ada kesalahan dalam menghitung. Ini dipengaruhi oleh analisa salah satu guru kami dan juga ada sekuritas yang menghitung dengan nilai tidak berbeda jauh. Jadinya PD untuk memegang. Ini kesalahan yang bisa dihindari kalau kami sudah membaca sampai habis buku One Up. Yang tertulis untuk jangan pernah percaya analisa orang lain. Alasannya silakan baca di bukunya. Ternyata ada perubahan bisnis yaitu perlambatan ekonomi. Setelah hitung ulang, keputusannya adalah jual. Di sinilah keputusan paling fatal. Kami menjual dengan memasang di posisi offer alias antri jual. Sebelum semua terjual habis, harga sudah terlanjur turun. Sejak ini, kami memutuskan kalau mau beli, langsung beli, kalau mau jual, langsung jual. Kan sudah melakukan analisa dan yakin, mengapa harus menawar-nawar lagi.

ROTI
Inilah saham sempurna perusahaan sempurna bagi kami. Hampir tidak ada isu jelek tentang ROTI. Kecuali volumenya yang kurang liquid. Saham sempurna karena kami membeli hampir di harga terendah. Ini yang agak susah didapat kalau kita menggunakan marketing timing. Kalau dicek di Chart, pada saat itu posisi saham ROTI membentuk Pola M. Dan bagi sebagian orang, Pola M berarti Mati. Beda dengan Pola W yang berarti Win. Untungnya kami bertahan. Karena 1 alasan. Penjualan sari roti terbanyak melalui minimart misalnya Indomaret dan Alfamart. Selama mereka bersaing buka cabang, berarti jalur distribusi sari roti akan terbuka dengan sendirinya. Ditambah roti menguasai 90% bisnis roti tawar di Indonesia. Ke depan trend mengkonsumsi roti juga akan meningkat. Apalagi kalau dicek, roti mulai booming ketika selai Nutella mulai terkenal.

Kira-kira demikianlah sedikit penjelasan mengapa kami membeli. Semua keputusan mungkin benar mungkin salah. Kalau salah, tinggal belajar mengapa bisa terjadi. Tidak ada investor sempurna yang akan selalu benar. Berhenti lah mencari alat ataupun manusia sempurna seperti itu. Bahkan Peter Lynch legenda wall street cuma benar 6 dari 10 kali memilih saham. Warren Buffet ditipu 8 trillun dari pemalsuan laporan keuangan, bidang yang dia kuasai.

Ini cerita kami, mari menulis cerita masing-masing.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link