Value Investing

 

  • Save

Value Investing
 
Kita sudah sering membahas tentang value investing untuk saham-saham di Indonesia. Bisa dibaca di artikel kami di 
 
Apa yang mempengaruhi gerakan saham?
http://goo.gl/EvfeJl
 
Semua cerita kita tentang saham di Indonesia. Bagaimana dengan investasi saham di negara lain. Jika metode ini bisa dijalankan, seharusnya bisa dipakai juga di negara lain. Kalau tidak, betapa merepotkan karena setiap ganti sektor, kita harus ganti metode, ganti saham ganti metode, ganti negara, ganti metode. 
 
Kita perlu menggunakan metode yang bisa digunakan di manapun dan kapanpun. Untuk itu, kita akan membahas salah satu saham yang fenomenal di Amerika Serikat yaitu Facebook. 
 
Kita menggunakan Amerika Serikat sebagai contoh karena pasar modal Amerika adalah salah satu yang paling tua dan sudah melewati banyak hal. Berarti mereka sudah melalui banyak metode. Dan jika metode ini masih dipakai, berarti sudah teruji. Kita akan membahas tentang ini di bawah. 
 
Kita tahu saham Facebook telah menghantarkan Mark Zuckenberg masuk ke Forbes, yaitu daftar orang terkaya di dunia. Dan Facebook dipakai oleh lebih dari 1 Milyar pengguna di seluruh dunia. Sampai dibuatkan filmnya dengan judul The Social Network. 
 
Alasan Mark bisa mencapai daftar tersebut karena saham Facebook mengalami kenaikan yang cukup besar, seperti terlihat di gambar. Mengapa saham Facebook bisa naik itulah yang penting. Jika kita tahu alasannya, kita bisa ikut memiliki sahamnya dengan tenang. Memang kita belum tentu akan masuk Forbes karena jumlah kepemilikan saham yang beda jauh. Tapi jika kita ingin kehidupan orang super kaya, bukan kaya biasa saja, kita harus mengikuti metode mereka. 
 
Seperti kata Albert Einstein, jika kita menggunakan metode lama kita dan berharap hasil berbeda, maka itu adalah definisi kegilaan. Apakah kita puas dengan cara yang lama? Jika tidak, mungkin sekarang adalah momen yang tepat untuk berubah haluan. Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, waktu terbaik adalah sekarang. 
 
Balik lagi ke saham Facebook, kalau dilihat gambar, ada garis berwarna biru. Terlihat bahwa arah garis itu sama dengan arah gerakan sahamnya. Garis biru tersebut adalah garis perkembangan laba bersih perusahaan. Jadi ketika perusahaan menghasilkan lebih banyak uang, investor lebih yakin untuk membeli sahamnya, ketika perusahaan menghasilkan lebih sedikit, investor menjadi tidak yakin dengan perusahaan dan menjual sahamnya. 
 
Ada metode lebih lanjut untuk tetap bertahan di saham ketika laba bersih agak turun sebelum naik lagi. Tapi kita tidak membahas tentang itu. Nanti kita bisa membahasnya di artikel lain lagi. 
 
Kalau kita sudah memahami tentang ini, maka kita bisa lebih tenang untuk tetap bertahan di saham ketika ada badai datang. Karena itulah, lebih menarik memiliki saham blue chip dibanding saham kelas 2 atau 3. Karena kemampuan mereka dalam menghasilkan uang lebih konsisten, dan jika ada masalah, mereka akan lebih cepat recovery karena sudah melalui banyak masalah. 
 
Kita tidak mungkin mengharap ada perusahaan yang akan melewati hari-harinya tanpa pernah bertemu masalah. Setiap perusahaan akan melewati masa up and down. Perusahaan yang berpengalaman akan lebih siap. 
 
Lihat saja grafik di gambar. Bahkan ada masa Facebook mengalami masa suram. Tapi tidak butuh lama untuk melewati masa itu. Sama seperti yang terjadi di Indonesia selama tahun 2015. Banyak perusahaan babak belur. Tapi perusahaan bagus akan cepat bangkit. Untuk itulah kita perlu memilih perusahaan terbaik. 
 
Setelah tahu tentang nilai perusahaan, saatnya kita membeli. Mengenai kapan saat terbaik, bisa baca di artikel di bawah ini. 
 
Five second valuation
http://goo.gl/6agyom
 
Kuasai 2 hal ini, mengerti nilai perusahaan dan kapan membeli, kita akan menuju jalan mencapai kebebasan finansial seperti penghuni Forbes. 
 
Ingat, burung sejenak terbang bersama. Jika kita meniru apa yang dilakukan penghuni Forbes, maka kita pun nanti akan seperti mereka. Meniru bebek, akan jadi bebek, meniru elang akan jadi elang. 
 
Artikel ini harusnya gampang dipahami. Cukup 15 menit, tapi untuk mencobanya, dibutuhkan 15 minggu. Mengapa? Karena kita punya kebiasaan lama yang menghalangi kita berubah. 
 
Jadi, selamat mencoba. 
 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link