Investasi itu Membosankan

  • Save

 

Investasi itu Membosankan

Demikianlah ucapan salah satu praktisi investasi saham. Kami mengenal beliau sejak 2 tahun lalu, dan sampai sekarang saham di portofolio dia tidak berubah banyak. Bahkan bisa dihitung dengan sebelah jari. UNVR, BBRI, BBCA, BMRI, dan BSDE. Barulah akhir-akhir ini ada penambahan AISA, GJTL, ROTI, LPCK. Tetap tidak lebih banyak dari jari di tangan. Ini yang dia miliki sekarang dan sebelumnya. Jadi sahamnya bolak balik ini saja.

Apa ga bosan? Itu pertanyaan banyak orang. Apa bisa cuan? Bukankah idaman semua investor, bisa cuan 20% dalam sehari atau sebulan. Kalau model saham seperti di atas, ya paling cuma 20% dalam setahun. Terlalu lambat. Demikian alasan 90% investor. Dan sepertinya, inilah yang membedakan antara investor yang profit dan yang rugi.

Karena kita tidak sabar, maka kita berusaha bekerja keras mencari saham yang bisa memberikan gain paling cepat dan besar. Padahal investasi itu sendiri adalah bagaimana membuat uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang. Dan karena tidak sabar, kadang kita membuang saham yang berpotensi naik hanya untuk mengejar saham lain.

Memupuk kekayaan bukan dengan cara ini. Haruslah dimulai dari nol dan selangkah demi selangkah. Kecuali kita punya kepintaran seperti Mark Zuckerberg. Bahkan Peter Lynch dan Warren Buffet saja cuma mengincar 20% per tahun.

Alasan utama adalah karena untuk mengamankan dana investasi kita. Karena target investasi adalah untuk jangka panjang. Seperti bisnis lainnya, butuh beberapa tahun hanya untuk balik modal, atas dasar apa kita berharap besok atau minggu depan sudah profit. Dengan fokus ke perusahaan yang sudah teruji, maka dana kita sendiri juga aman. Dan tiap tahun akan bertumbuh.

Jangan sampai kesalahan terjadi di awal. Karena sekali salah, akan susah untuk diperbaiki. Baik dari kebiasaan maupun mengejar profit. Contoh, kita mau cepat kaya, makanya mengejar saham yang bisa memberikan hasil cepat. Tapi karena biasanya di awal kita kurang ilmu, maka kita akan terjebak lose. Setelah lose, kita akan kalap membeli saham lain hanya untuk menutupi lose. Karena faktor emosi sudah bermain, hampir dipastikan kita tidak akan selamat mencapai tujuan kita berinvestasi.

Ini sama seperti mengendarai mobil. Apakah bijak jika ketika hari pertama mulai mengendarai mobil, kita langsung memakai mobil balap Formula 1 hanya demi mencapai tujuan? Rasanya kita akan berakhir di rumah sakit alih-alih mencapai garis finish.

Dan investasi itu sendiri membosankan. Kita cuma melakukan analisa, memahami bagaimana perusahaan dan saham ini bergerak ke depannya, membeli dan menunggu hingga analisa kita terbukti benar. Mau memakai cheerleader atau ancaman bom, saham tetap akan bergerak sesuai kondisi pasar. Kita hanya perlu menunggu semuanya terjadi.

Kalau kita merasa semangat sampai melompat-lompat hanya karena pergerakan saham, patut ditanyakan, kita sedang berada di bursa saham atau di kasino. Dalam investasi, emosi tidak pernah berperan penting. Karena semuanya murni hitungan bisnis. Tapi menariknya, hanya ketika terjadinya perubahan emosi karena fear dan greed, maka kesempatan bisa muncul. Apakah kesempatan membeli atau menjual.

Tugas kita hanyalah mengerjakan PR. Menganalisa apakah saham ini sudah murah atau mahal. Apa hal positif dan negatif ke depannya yang mungkin merubah rencana kita.

Apakah kita melibatkan emosi ketika mengerjakan PR? Silakan dijawab masing-masing.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link