Ketahui Faktanya

  • Save

 

Ketahui Faktanya

Dalam seminggu IHSG sudah turun banyak. Dari posisi hampir mencapai all time high, sekarang mulai ribut lagi potensi menuju berikutnya. Apakah benar demikian? Mari kita mencari tahu.

Jika kita mengikuti berita yang banyak beredar, dan kalau fokus kita hanya pada pergerakan harga, IHSG jelas dalam masalah. Karena ketika naik, seakan-akan bulan pun akan diraih. Sedangkan kalau turun, bumi pun akan ditembus. Tapi jelas dalam realita, tidak akan seperti itu. Kenaikan hanya akan mencapai tahap tertentu, demikian juga penurunan. Selalu ada batasannya. Batasan inilah menggambarkan perusahaan. Atau dalam IHSG menggambarkan Indonesia.

Dari banyak artikel sebelumnya, kami selalu fokus pada 2 hal. Jika perusahaan murah, beli, jika perusahaan mahal, jual. Sekarang, bagaimana menentukan perusahaan mahal dan murah. Jelas bukan dari perbandingan harga semata. Kalau cuma itu, BEKS jelas lebih murah dibanding . Tapi apakah realitanya seperti itu? Ini sama seperti membandingkan bemo seharga 50 juta dengan BMW seharga 100 juta. Mana lebih murah. Apakah BMW? Belum tentu. Bagaimana kalau ternyata bemonya berlapis emas murni, sedangkan BMW sisa rangkanya. Di sinilah pentingnya kita mencari tahu apa yang ada di belakang saham yang naik turun harganya.

Untuk detil, bisa cek di sini.
Apa yang mempengaruhi gerakan saham?
http://goo.gl/EvfeJl

Kami persingkat saja, dengan asumsi bahwa semua sudah paham apa isi artikel di atas. Jadi, fokus utama adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Ini kondisi yang sama ketika teman mengajak kita membuka warung mie ayam. Pertanyaan kita selalu, potensi labanya bisa berapa? Tinggal diekspand lebih besar, sekarang ada mr. X yang mengajak kita berinvestasi di perusahaan yang menghasilkan mie instan untuk seluruh dunia. Sama saja kan, antara bisnis mie ayam dan bisnis mie instan global. Bisnis mie instan ini cuma analogi, kita bisa mengganti dengan bisnis apa saja. Roti, peralatan rumah tangga, properti, jasa internet, perumahan, tanah, asuransi, perkreditan, dan segala hal yang bisa dijual dan legal.

Jika laba meningkat, dan harga saham bergerak turun, maka ini adalah kesempatan untuk membeli. Ibarat bemo yang ditambah berlian, dan orang salah mengira melihatnya sebagai batu dan menurunkan harga jualnya, kesalahan inilah yang akan menjadi kesempatan bagi kita. Kebalikannya, jika laba turun, dan harga saham bergerak naik, maka ini adalah kesempatan untuk menjual. Seperti BMW yang dicopot mesin dan interiornya, dan ada yang karena tergila-gila menawar lebih mahal. Kesalahan inilah yang akan menjadi kesempatan bagi kita.

jadi ketika bursa saham bergerak turun, yang disebabkan oleh turunnya mayoritas harga saham, yang pertama dilihat adalah bisnisnya. Apakah ada sesuatu yang akan menyebabkan perusahaan ini kehilangan potensi laba ke depannya? Jika tidak, apa penyebab penurunan kali ini. Berita eksternal? Ketakutan tak berdasar? Jika ya, dan inti perusahaan tidak tersentuh, maka kita baru masuk langkah kedua. Mengeceknya juga gampang, misalnya bank BCA. Setiap hari harga sahamnya bergerak naik turun. Tapi bisnisnya tetap jalan kan? Dan pegawainya juga tidak langsung menerima bonus atau pengurangan gaji karena 1-2 hal yang mereka lakukan. Jadi secara bisnis BCA stabil. Jika sahamnya bergerak turun, bukankah ini adalah kesempatan. Sekali lagi, BCA cuma analogi, silakan ubah menjadi perusahaan apapun yang kita amati.

Langkah kedua. Setelah menyadari perusahaannya kokoh, dan bisnisnya punya propsek, maka kita harus menentukan kira-kira berapa nilai yang layak bagi perusahaan ini. Untuk bagian itu, silakan baca di artikel berikut.

Five second valuation
http://goo.gl/6agyom

Five second valuation manual
http://goo.gl/qowUBr

Langkah di atas adalah cara paling gampang menentukan nilai. Langkah lain mungkin bisa dari perhitungan PER, DCF, atau metode apapun itu, sepanjang metode itu bisa memberikan sebuah nilai yang masuk akal. Setelah memberikan sebuah nilai, seperti penjelasan di link di atas, kita harus memberikan diskon. Ini titik krusial. Di bisnis, salah satu penentu kesuksesan kita adalah kemampuan melakukan negosiasi. Ini yang membedakan kita mendapat Juta atau Milyar. Belanja di pasar saja kita melakukan negosiasi. Mengapa tidak untuk membeli perusahaan. Bayangkan saja kita sedang melakukan negosiasi untuk mengakuisisi perusahaan Indofood. Dengan cara pandang ini, seperti bahasan di artikel kemarin, kita tentu tidak akan sembarangan.

Setelah transaksi terjadi, apa yang kita lakukan? Jelas menunggu hingga terjadinya perubahan fundamental lagi. Kita tidak membeli bisnis untuk dijual keesokan harinya kan? Walaupun benar dijual, tentu tidak demi uang receh. Sudah capek-capek analisa, mendapat perusahaan terbaik di dunia menurut kita, kok secepat itu dilepas.

Setelah membeli, kita melakukan lagi aktivitas sehari-hari kita, biarkan saja karyawan di perusahaan yang kita beli jungkir balik mencari laba yang lebih banyak untuk kita. Karena itulah mereka digaji kan? Demi masa depan mereka yang lebih cerah.

Dan karena itulah kita disebut investor. Demi masa depan kita yang lebih cerah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link