Sejarah Selalu Berulang

  • Save

 

Sejarah Selalu Berulang

Banyak yang bersorak karena IHSG sudah mendekati nilai tertinggi sebelumnya di 5524. Di antara yang senang, ada juga yang mungkin bermuram karena belum mendapat profit, atau malah sudah memutuskan untuk berhenti.

Tapi IHSG memang akan seperti ini. Kadang naik kadang turun. Bukan hal yang sangat menakutkan ataupun menggembirakan. Semua akan seperti ini. Alasannya sederhana. IHSG itu kumpulan dari saham-saham. Di belakang saham ada perusahaan yang diwakilkannya. Di dalam perusahaan ada manusia yang menjalankan. Dan manusia itu punya sifat ketika di atas akan merasa di zona nyaman dan cenderung santai, sehingga akan turun, dan ketika di bawah akan tidak tahan dan bekerja keras supaya naik lagi. Dari jaman purbakala juga sudah seperti ini.

Seperti di gambar, IHSG pernah turun tajam, tapi dalam setahun sudah balik arah yang lumayan. Sama juga kan dengan kondisi setahun terakhir. Akhir Agustus 2015 IHSG ada di angka 4044, dan setahun berlalu sudah ada di 5400. Betapa banyak kegalauan, kemarahan, kesedihan tahun lalu, sudah berganti wajah tahun ini. Apakah IHSG akan naik terus ke depannya? Tidak mungkin. Lihat saja sejarah sebelumnya. Naik dan turun sudah menjadi seperti uang koin. Selalu ada 2 sisi, kita tidak mungkin bisa membuang salah satunya saja.

Sayangnya, banyak orang yang pesimis ketika turun dan optimis ketika naik. Investor sejati harusnya melampaui ini. Membeli dan menjual murni karena perhitungan bisnis, bukan karena sisi emosional. Jika kita selalu membeli ketika IHSG sudah naik dan menjual ketika IHSG sudah turun, ini jaminan kita akan kehilangan uang. Ini diperparah dengan ketidak sabaran kita sehingga transaksi yang dilakukan sangat pendek time framenya. Ditambah keinginan cepat kaya, maka kita akan memakai hutang. Ini jalan pintas, bukan untuk menjadi kaya, tapi jalan singkat untuk gagal.

Jika benar cara di atas bisa berhasil, mengapa tidak ada yang berhasil masuk daftar Forbes? Katakanlah jika ada yang berhasil, itu 1 di antara berapa. Repotnya, ketika ada pembicara yang mengatakan hanya 1 di antara 100 penonton yang akan berhasil, berani jamin, 100 penonton di sana akan berpikir, saya lah orang nomor 1 itu.

Bersikap optimis sah-sah saja, tapi lebih baik bersikap realistis. Ekstrim kanan dan Ekstrim kiri tidaklah baik. Jalan yang terlalu positif akan membuat kita gagal melihat bahaya di depan, jalan yang terlalu negatif akan membuat kita gagal melihat peluang di depan. Hanya dengan jalan tengah kita baru bisa melihat apa adanya.

Karena bersikap realistis, kita mengakui bahwa kita orang biasa-biasa saja, yang sebagian waktu malah bukan untuk investasi di saham, maka kita perlu memakai cara yang sederhana. Cara yang bisa diduplikasi semua orang.  

Karena itu kami selalu mendorong orang mempelajari

Five second valuation
http://goo.gl/6agyom

Cara yang cukup aman. Karena latar belakang kita sendiri bukanlah professional investor. Kita semua berasal dari mahasiswa, karyawan, pensiunan, ibu rumah tangga, pengusaha, mana ada waktu 6 jam dan modal tinggi atau kepintaran ilmu roket untuk menghasilkan sistem yang canggih.

Mengenai cara penggunaan bisa dicek di sini.

Five second valuation manual
http://goo.gl/qowUBr

Semoga artikel ini bermanfaat. Inilah gunanya perlu melihat jangka panjang. Tidak hanya perubahan harian harga. Dengan melihat secara jangka panjang, kita jadi tahu tujuan kita, dan melalui target jangka pendek, kita tahu bagaimana jalan untuk mencapainya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link