Journey to Hong Kong – Part 2

  • Save

Journey to Hong Kong – Part 2

Ini adalah lanjutan dari bagian 1 yang bisa dibaca di https://saham-indonesia.com/2016/10/journey-to-hong-kong-part-1/

Agak telat sedikit karena sedang musim laporan keuangan. Sehari bisa 10 yang keluar. Dari 47 saham yang kami pantau, sudah 80% yang mengeluarkan laporan keuangannya. List kami bisa dicek di sini, https://saham-indonesia.com/2014/10/ini-list-sahamku-mana-listmu/

Balik ke cerita Hong Kong. Setelah sampai di bandara Hong Kong, kami menunggu dibukanya counter untuk mengambil sim card di sana. Menarik melihat daerah tujuan wisata sekarang mempermudah wisatawan mendapatkan sim card untuk mengakses internet. Di samping menjual sim card, juga banyak counter melayani penyewaan wifi. Bisnis yang menarik jika jumlah wisman ke Indonesia meningkat. Sekarang dengan adanya koneksi internet, kita bisa menjelajah ke mana saja. Petunjuk jalan sudah lengkap.

Teknologi membantu memudahkan kehidupan masyarakat. Di Jakarta saja, kadang kami bertemu supir uber yang tidak mengenal jalanan, tapi mau berjuang untuk mencari nafkah hanya bermodal GPS. Internet sudah menjadi kebutuhan primer manusia sekarang. Konsep pangan sandang dan papan sepertinya harus diubah.

Keluar dari bandara, dengan mengandalkan Google map, kami ke Ngong Ping untuk naik cable car dan menuju dusunnya melihat patung Buddha. Satu hal yang pasti, dan untuk semua tujuan wisata, kita harus memperhitungkan antrian sekitar 30 menit sampai 1 jam. Ini yang sepertinya jarang disebut di review wisata. Sama seperti seminar dan petunjuk dalam berinvestasi, tidak ada yang memberikan informasi 100%, dengan pengalaman kita sendiri lah baru kita bisa mengetahui kapan harus masuk dan keluar. Semua informasi yang ada hanyalah garis besar yang bisa diikuti. Kita menggunakan metode ATM untuk maju. Metode ATM bisa baca di sini. https://saham-indonesia.com/2016/02/atm/

Setelah dari Ngong Ping, kami menuju hotel di daerah Tsim Sha Tsui. Beristirahat sebentar, kemudian kami melanjutkan tour ke the Peak. Yaitu puncak dari Hong Kong. Jalan menuju sana ada 2 cara, yaitu melalui bus atau tram. Sekali lagi, jalur antrian sungguh ramai. Antrian 1 jam hanya untuk naik selama 6 menit. Benar-benar tidak efisien. Tindakan yang sama jika kita seharian memantau layar komputer hanya untuk mencari uang receh. Mending waktunya dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Ingat, aset paling berharga kita adalah waktu. Uang hilang bisa dicari lagi, moment dan waktu akan terus berjalan, tidak peduli bagaimana kita memakainya.

Dan di perjalanan, kami melihat produk Indonesia go internasional. Indomie seperti di gambar, BNI, dan gedung Lippo.

Sampai di the Peak, sungguh sangat ramai. Semua berusaha mengabadikan moment di sana. Hampir tidak ada tempat kosong untuk melihat – lihat. Ini seperti kalau kita membeli saham yang sedang hot, maka potensi yang ada sangat tipis, karena keramaian yang mengantri. Dan di the Peak selain melihat pemandangan, ada juga Madame Tussaud dan Trick Eye. Idealnya kedua tempat ini duluan barulah the Peak. Sayang kami salah memilih, sehingga agak buru-buru, bahkan Trick Eye terpaksa hari lainnya.

Ketika beristirahat, kami melihat ada turis yang keluar dari pintu. Biasanya kami akan mencoba mengecek, sayang karena terlalu capek, kami melewatkannya. Baru di hari lainnya ketika datang lagi, kami menyadari dari pintu ini kami juga bisa melihat pemandangan the Peak secara gratis. Yup, atraksi wisata di Hong Kong hampir semuanya harus bayar. Bahkan busnya menggunakan tarif flat dibanding dengan Singapore yang menghitung jarak. Mirip Indonesia yang jauh dekat 4.000. Tapi di sini rata-rata jauh dekat 15.000. Memang kekuatan ekonominya berbeda.

Besoknya kami berencana keliling Hong Kong. Namun, Hong Kong mengalami badai sehingga bandara, kapal, dan bus tutup. Yang mengakibatkan banyak tempat juga tutup karena karyawan di sana tidak bisa masuk. Dan ini ternyata cukup sering terjadi. Ekonomi berhenti karena kondisi alam. Bandingkan dengan Indonesia yang cukup bagus iklimnya. Mungkin karena terlalu bagus, makanya negara tropis agak tertinggal ekonominya. Terlalu santai. Hanya ketika kita dipaksa keadaan barulah kita bisa berusaha. Ini juga terjadi di kami. 4 Jam di pesawat kami menghabiskan bacaan sebanyak yang kami habiskan 4 minggu di daratan. Mungkin kita perlu memaksa diri kita sampai batas limit supaya bisa naik Kelas.

Kembali ke Hong Kong. Karena badai, apakah 1 hari menjadi sia-sia? Tidak juga. Ini pengalaman menarik, karena kapan lagi kita bisa berwisata melihat kondisi ekstrim di daerah tujuan? Tentu kami menanyakan terlebih dahulu kepada penduduk di sana, apakah aman? Bagaimanapun juga, pengalaman orang lain adalah guru paling baik. Dan menariknya, di saat penduduk sana mengatakan aman, keluarga dan teman di Indonesia malah panik, karena beredarnya banyak berita tidak jelas tentang badai ini. Ini mengingatkan kami tentang AISA di awal tahun. Ketika ada rumor tentang sesuatu, kita seharusnya tidak langsung menerima atau menolak rumor itu. Setelah melalui analisa mengenai fakta yang terjadi, barulah kita mengambil keputusan. Untuk artikel tentang ini, bisa baca di https://saham-indonesia.com/2016/10/veni-vidi-vici/

Bursa juga sama. Banyak berita bergerak ke sana ke mari. Adalah tugas kita untuk menentukan mana yang layak dipercaya atau ditolak. Di suasana badai, kami melihat keadaan Hong Kong yang benar-benar sepi. Mungkin mirip kondisi film the walking dead. Tidak ada manusia sepanjang jalan. Setelah agak sore, barulah 1-2 fasilitas dibuka, dan kami bisa melakukan travel lagi.

Ada 1 hal menarik di waktu badai. Karena kondisi buruk, maka hampir tidak ada tempat makan yang buka. Jadi kami mencoba makan di warung di sana. Ternyata harga yang dipatok kemahalan. 80ribu hanya untuk 1 piring nasi goreng yang kelasnya di bawah nasi goreng tek-tek. Dan di meja sebelah, 2 piring + 1 Ayam + 2 kaleng soft drink dihargai 400 ribu. Sampai orangnya mau menuntut pemilik warung makan.

Menarik ya, daerah ini adalah wilayah kelas bawah yang orang mengharapkan barang murah. Malahan banyak terjadi kecurangan. Inilah kehidupan spiral down. Manusia melakukan kecurangan karena merasa tidak cukup, dan ini menyebabkan mereka hidup kekurangan, yang membuat mereka melakukan kecurangan lagi. Kondisi ini mengajarkan kami, ketika bursa tidak ada tawaran menarik, jangan terbujuk untuk membeli saham busuk yang terlihat murah, karena cepat atau lambat kita akan kena batunya. Dan jangan pernah sekali-kali menjalani kehidupan ke bawah, karena sekali ke bawah, kita akan terikat kondisi untuk terus menuju ke bawah. Makanya, Jangan harap Saham-Indonesia akan membahas saham tidak bermutu yang cuma 1-2 hari menjadi super star.

Lagipula, bertransaksi saham ga mutu jelas adalah arah kehidupan spiral down. Misalkan kita membeli di harga 50, tentu kita ingin menjual di harga semaksimal mungkin. Katakan lah kita berhasil menjual di 150 yang merupakan puncak harga. Bahagia? Ingat, dalam bursa, ada yang jual tentu ada yang beli. Bagaimana nasib yang beli di harga tertinggi? Sudah nasibnya salah? Karena inilah kami tidak akan menyentuh saham demikian. Apapun yang kami tidak ingin terjadi dalam hidup kami, tidak juga akan kami lakukan ke orang lain.

Berinvestasi adalah melihat nilai lebih di sebuah hal, dan semua pihak yang terlibat akan mendapat nilai tersebut. Perusahaan mendapat modal untuk berekspansi, laba datang, karyawan mendapat kenaikan gaji, pajak yang dibayar ke negara menjadi lebih besar, dan pada akhirnya investor akan mendapat untung juga. Dengan cara inilah kita sebagai investor memberikan kontribusi pada Indonesia.

Balik ke Hong Kong. Hari berikutnya kami ke Macau. Secara singkat saja. Kebalikan dari Hong Kong yang serba mahal. Di Macau bisa dibilang serba gratis. Sesampainya di Macau banyak bus yang melayani rute dengan gratis. Tempat wisata yang menawarkan makanan contoh dengan porsi yang lumayan. Pemerintah menawarkan area wifi kepada wisatawan. Jadi bisa saja kita keliling Macau tanpa biaya. Toko yang menjual souvenir bertebaran di sepanjang jalan, dan yang menarik, justru toko yang paling dekat dengan objek wisata tidak dikunjungi oleh satu wisatawanpun.

Mungkin pemilik toko merasa lokasi dia paling strategis, berada di pusat kerumuman. Sayangnya, mungkin wisatawan berpikir, sepanjang jalan datang sudah beli, anda telat menawarkan, atau sekarang lagi di objek, saatnya berfoto bukan membeli souvenir, atau nanti pas jalan balik masih sempat membeli. Poinnya, apapun yang kita pikirkan, belum tentu akan terjadi. Sama seperti ketika kita sekarang menghayal, nanti saham saya akan naik ke sekian kemudian saya jual. 2 tahun lagi akan kipas-kipas di Hawaii. Sayang, ketika mimpi dan realita tidak sama, bukankah namanya gila kalau kita mempercayai mimpi?

Hari terakhir, kami seharian menjelajah Hong Kong termasuk naik tremnya. Melihat pekerja imigran membanjiri jalanan di hari minggu. Banyak pola kehidupan di sini yang sepertinya akan ditiru Jakarta. Kantong plastik harus bayar, jalanan sempit, bus jauh dekat sama harganya, penduduk beragam. Suatu hari Jakarta mungkin akan seperti Hong Kong. Korupsi yang sekarang banyak? Tahun 70an Hong Kong bahkan lebih buruk. Listrik yang suka byar pret? Suatu hari jika proyek 35ribu MW jalan, Indonesia pasti bisa. Justru sekarang pemerintah sudah di jalan yang benar. Infrastruktur dibangun dulu, barulah bisnis dan investor nya akan datang.

Dan jika Indonesia menjadi tujuan menarik bagi semua penduduk dunia, karena keindahan alamnya, penduduknya yang menarik, teknologi nya, kenyamanan berjalan, makanannya, berapakah pendapatan per kapita tiap orang ketika dana mengalir ke seluruh lapisan masyarakat dihantar oleh penduduk 1 dunia? PR besar buat kita semua.

Akhirnya selesai juga. Setidaknya, pengalaman 3 bulan dari persiapan sampai balik bisa dibaca dalam waktu 30 menit. Oleh sebab itu, membaca adalah cara paling murah meningkatkan kapasitas. Biaya murah untuk mengetahui pengalaman orang lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link