Optimis Pesimis dan Realistis

  • Save

 

Optimis Pesimis atau Realistis?

Dengan kejatuhan bursa minggu lalu, banyak investor menjadi takut. Apakah ada alasannya? Apa yang membuat takut? Karena aset di porto mengecil? Hal ini membuat orang menjadi stress. Penyebab utama dari pikiran ini adalah cara berpikir yang unik. Kita diajarkan banyak metode yang menurut kami malah aneh.

Misalnya, ketika kita membeli rumah untuk berinvestasi, apakah ketika besok ada yang menjual lebih murah kita akan panik, kemudian rumah kita ikut dijual? Tentu tidak, kita akan tetap bertahan pada rumah kita. Ini cara berpikir yang logis. Mengapa di saham tidak demikian?

Kita selalu diajarkan untuk sukses dengan cepat, tapi semua orang sukses adalah orang yang telah lama di bidangnya. Bahkan milyarder muda seperti Mark telah di bidangnya sejak masa kuliah. Dan karena daya ungkitnya besar, maka dia menjadi lebih cepat masuk daftar Forbes.

Penurunan selalu akan menakutkan bagi sebagian orang, apalagi kalau sudah ada sahamnya. Tapi lihat lagi di sekeliling, apakah bisnis tempat kita berinvestasi telah tutup? Apakah Bank tempat kita menaruh uang telah dilikuidasi? Apakah properti tempat kita berinvestasi telah rata dengan tanah? Jika tidak, dan bisnis masih berjalan apa adanya, terus gunanya panik untuk apa.

Panik adalah kata lain dari fear. Dan ini emosi yang merusak dalam karir investasi kita. Kemungkinan kita melakukan kesalahan akan menjadi lebih besar.

Emosi lain adalah greed. Apakah sama dengan optimis? Belum tentu. Tapi kita juga perlu berhati-hati dengan optimis ini. Jika tidak dibarengi dengan pengetahuan, maka tindakan yang kita lakukan juga bisa salah. Tapi optimis masih lebih baik dibandingkan dengan pesimis. Karena pada dasarnya bursa saham akan naik mengikuti jaman, maka lebih baik kita mempertahankan status up dibanding status down.

Pilihan ketiga. Adalah bersikap realistis. Hal yang susah karena kita harus membuang ego kita atas kepemilikan saham. Kita merasa cemas biasanya karena ada saham”ku” di dalam. Coba tanpa milikku, apakah rasa cemas akan ada? Sepertinya tidak. Dengan demikian, kita akan gampang menganalisa. Apa yang kita analisa?

1. Harga yang makin murah pada perusahaan yang kemarin dan hari ini sama, berarti memunculkan kesempatan.
2. Apakah kita punya cash, jika ya, berarti gampang. Tinggal buy kalau sudah masuk harga beli.
3. Kalau tidak, ini yang repot. Terpaksa harus rebalancing. Jual yang paling sedikit potensinya dan beli yang paling murah saat itu.
4. Duduk manis menunggu panen. Bahkan padi juga butuh 3 bulan, bukan 3 hari.

Hari ini ngantar orang tua keliling daerah sekitar rumah, ternyata semuanya masih berjalan dengan baik. Rumah sakit masih beroperasi, pasar masih jualan, makan pagi masih banyak yang jualan, mobil masih lalu lalang, kecuali mall ternyata tutup. Pas lihat jam, ternyata memang belum jam buka. Jadi, apa gunanya panik?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link