Kisah Cacing dan Kotoran Kesayangannya

  • Save

 

Kisah dalam Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Seorang Pertapa muda memutuskan untuk menyepi di sebuah pulau, untuk mencapai pencerahan sedini mungkin. Dia menetapkan waktu penyepian selama 3 tahun. Setiap minggu seorang pelayan mengantarkan pasokan kebutuhan hidupnya, menggunakan sampan kecil.

***

Memasuki akhir masa penyepiannya, pertapa muda itu menitipkan pesanan khusus kepada pelayan yang mengantar pasokan. Pesanan itu adalah : perkamen, pena, dan sebotol tinta. Seminggu kemudian pesanannya datang.

Beberapa hari berikutnya, setelah bermeditasi khusus, pertapa muda itu segera menuliskan puisi pendek dengan pena di atas perkamen yang baru di dapatnya.

Demikian puisinya:

Pertapa muda yang tekun
Tiga tahun bermeditasi dalam kesendirian.
Tak kan tergoyahkan lagi
Oleh empat angin duniawi.

Lalu ia menitipkan perkamen itu kepada pelayan pengantar pasokan, untuk diserahkan pada kepala biara.

***

Minggu berikut, pelayan kembali datang, dan menyerahkan perkamen itu padanya.

“Dari Kepala Biara” kata pelayan itu.

Pertapa muda segera membuka perkamen.

Wajahnya pucat, matanya terbelalak bagai bulan purnama.

Bagaimana tidak, itu adalah perkamen karyanya, yang ditulis dengan kaligrafi yang seindah mungkin. Namun dengan seenak udelnya Kepala Biara menuliskan kata ‘Kentut’ di setiap akhir bait puisinya. Dengan tinta merah pula !

Dalam kegeramannya pertapa muda itu berkata kepada pelayan “Antarkan aku ke kepala biara sekarang juga”!!!!!

Untuk pertama kalinya, selama tiga tahun terakhir pertapa muda itu meninggalkan ‘pulaunya’.

****

Pertapa muda itu melemparkan perkamen ke atas meja Kepala Biara dengan penuh kemarahan, menuntut penjelasan. Dengan lembut, kepala biara memungut gulungan perkamen, membukanya dan membaca puisi yang tertulis :

Pertapa muda yang tekun
Tiga tahun bermeditasi dalam kesendirian.
Tak kan tergoyahkan lagi
Oleh empat angin duniawi.

Lalu kepala Biara meletakkan kembali perkamen tersebut ke atas meja.

Ia tatap pertapa muda itu, dan berkata :

Bagaimana kamu menuliskan ‘Empat angin duniawi tak menggoyahkanku’ sementara ’empat kentut kecil saja sudah meniupmu keluar pulau ?!

(Di daur ulang dari Kisah ke 89 dalam SI CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA, Karya AJAHN BRAHM).

Diambil dari : http://www.kompasiana.com/revolusisunyi/ciri-orang-yang-sudah-mencapai-pencerahan_5509d4938133117175b1e363

———————————-

Cerita diambil dari link di atas dan sumbernya dari buku Si Cacing dan Kotoran kesayangannya. Sebuah kisah yang cocok untuk kondisi bursa saat ini.

Berapa banyak buku yang sudah kita baca. Berapa banyak seminar yang sudah kita ikuti. Tujuannya adalah supaya kita bisa profit. Tapi kalau kita akhirnya akan cepat panik, galau, emosian, apa gunanya semua ilmu yang kita pelajari.

Semua hal yang terjadi di dunia ini hanyalah pengalaman yang muncul dan hilang. Bagaimana kita bereaksi yang akan menentukan kita berikutnya. Coba saja lihat sejarah portofolio kita sekarang ini. Bukankah ini adalah cerminan dari apa yang kita pilih di masa lalu. Dan jika kita tidak puas dengan hasilnya, mengapa masih saja melakukan hal yang sama berulang-ulang. Definisi gila menurut Einstein adalah ketika kita mengharapkan hasil yang berbeda dari tindakan yang sama.

Jika kita tidak merubah bagaimana cara kita memandang bursa, selama nya hasil yang akan kita Terima akan sama. Ketika naik kita menjadi serakah dan panik, dan ketika turun kita menjadi takut dan panik. Kita memandang dari kacamata yang salah.

Satu-satunya jalan untuk merubah nasib, jelas kita harus meningkatkan kapasitas kita. Tidak mungkin kita akan bisa menyelesaikan masalah kita dengan cara pandang yang level nya sama. Contohnya ketika ada tembok yang menghalangi pandangan kita, orang pintar akan mencari tangga supaya bisa melihat melampaui tembok, sedangkan orang bodoh akan menunggu temboknya hilang. Kesempatan tidak akan menunggu kita.

Kesempatan hanya akan muncul dan bisa diambil oleh orang yang punya kapasitas untuk itu. Kapasitas hanya akan ada jika kita memasukkan ilmu pada diri kita. Kita adalah gudang ilmu atau gudang sampah, tergantung dari apa yang kita masukkan ke diri kita.

Dan ini potongan dari ringkasan One Up on Wall Street :

—————————
Dengan menanyakan beberapa pertanyaan dasar, anda akan tahu perusahaan mana yang bertumbuh, mana yang tidak. Anda tidak akan tahu dengan pasti apa yang terjadi, tapi jika ada kejadian, sama seperti membuka 1 kartu lagi. Selama kartunya menambah peluang anda menang, anda selalu bertahan.

Pemenang yang konsisten selalu menambah taruhan mereka ketika posisi menguat, dan mengakhiri permainan ketika peluang melawan mereka, sedangkan pecundang yang konsisten selalu berpegang pada kartu yang kalah selama mungkin, berharap ada keajaiban terjadi. Di poker dan Wall Street, keajaiban terjadi cukup sering yang membuat pecundang tetap kalah.

Pemenang konsisten juga mundur ketika mereka mendapat tiga kartu As dan bertaruh maksimal, dan kalah terhadap Royal Flush. Mereka menerima nasib mereka dan melanjutkan permainan, percaya bahwa cara mereka akan berhasil selanjutnya. Orang yang sukses di saham juga menerima kekalahan, kemunduran, dan kejadian tidak terduga.
—————————

Jadi, apakah kita siap menghadapi penurunan berikutnya yang pasti akan terjadi? Atau akan panik menyalahkan dunia luar atas apa yang terjadi? Pilihan di tangan kita sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link