AISA My Number 1 Stock

  • Save

AISA My Number 1 Stock

Hari ini saham AISA terjun bebas. -19%. Saham yang secara value di portofolio kami ada di rank nomor 1. Maka secara total kinerja kami di bulan Januari langsung ikut terjun bebas. Untungnya kejadian ini di bulan Januari. Jadi masih ada 11 bulan untuk perbaikan gizi. Kalau ini terjadi di bulan Desember dan kalau kami adalah fund manager, besok sudah pasti dipecat.

Apalagi sementara ini ada saham yang naik dan naik terus, kok bisa-bisanya malah memegang saham yang turun dalam. Nah, kalau saya fund manager dan ada nasabah yang meminta untuk ikut terlibat, maka kami yang akan memecat nasabah itu. Untungnya dalam berinvestasi, semua adalah urusan masing-masing.

Mengapa saham yang itu tidak pernah kami lihat. Sederhananya, itu tidak masuk dalam lingkar kompentensi kami. Kami hanya tertarik pada saham yang bisa diprediksi labanya secara gampang. Karena cara ini bisa diwariskan metodenya ke banyak orang. Ini lingkar nomor 1. Saham komoditas di luar lingkar ini.

Kemudian kami fokus pada perusahaan yang laporan keuangannya jelas dan secara rutin diupdate sesuai jadwalnya. Ini adalah lingkar nomor 2. Dan pada akhirnya kami melihat siapa di belakang perusahaan ini. Memang hampir tidak ada orang suci dalam dunia bisnis, tapi jika manajemennya sudah berhubungan dengan pihak yang integritasnya diragukan, sudah sepantasnya ini tidak boleh didekati. Ini adalah lingkar nomor 3.

Kalau mau diteruskan, bisa lanjut dan akhirnya artikel malah membahas itu. Tapi idenya terlihat ya, kami tidak mau repot-repot mengambil risiko yang tidak perlu. Masuk saham blue chip saja ada risiko kehilangan uang, apalagi yang serba gelap.

Balik ke AISA. Jika nanya kami, ada apa. Jelas kami tidak tahu alasannya. Bagaimana bisa turun, karena ada pihak yang menjual dengan harga rendah tanpa ada yang melakukan perlawanan. Kalau lihat chart nya pasti menyeramkan, dikatakan tembus support ke mana-mana. Apakah besok harus langsung dijual.

Tapi satu hal pasti. Jika ini sudah pusing, padahal cuma pegang beberapa lot, bagaimana pemegang saham mayoritas? Salah satu pemegang sahamnya yang memiliki 16% saham hari ini baru mengalami penurunan aset sebesar 154 Milyar rupiah.

Rasanya malas untuk memencet tombol sell. Apalagi kalau jual murah. Toh kami tidak butuh dana dalam waktu dekat. Jadi kami ada waktu untuk melakukan analisa. Analisa yang mungkin subjektif. Jelas saja, bahkan kecantikan itu juga relatif, makanya pria dan wanita bisa menyukai lawan jenis yang berbeda. Kalau standar nya sama, bisa celaka, cuma ada 1 pria dan wanita yang diperebutkan, sisanya jadi penonton.

Kita lihat yang pertama. Dari yang menjual di harga 1575, faktanya ada yang sepakat bahwa mereka merasa harga demikian adalah layak jual. Alasannya? Kami tidak tahu. Perlu ditelepon ke pihak yang jual mengapa mereka mau menjual di harga murah. Padahal ada kesempatan berminggu-minggu untuk menjual di harga 2000. Tapi itu tidak akan merubah apapun. Ini hanya pemikiran dari 0.07% pemegang saham. Masih ada 99.93% yang tidak menjual. Masak gara-gara minoritas yang bergerak 1 negara bisa kacau? Seharusnya investor itu rasional, bukan yang gampang terprovokasi.

Kemudian dicek di list saham kami. Ternyata yang mengalami tekanan bukan hanya AISA saja. Ada INTP, LINK, BMRI, yang harganya dibanting di penutupan. Tapi AISA yang paling besar. Dan pas lihat list, ternyata ada 2 saham yang malah Lolos dari pengamatan. Padahal dulu sudah sempat bahas bareng teman. JTPE dan PANR. Perusahaan dengan bisnis kartu dan kertas berharga, dan satu lagi perusahaan pariwisata. Bersama LINK, kemungkinan ini adalah bisnis masa depan. Sayang, ada saja alasan mengapa tidak membeli 2 ini.

Balik ke AISA lagi, apakah ada perubahan berarti di perusahaannya? Kalau harganya sih ga usah dipedulikan. Memang tiap hari berubah. Sepertinya tidak. Kalau benar ada yang membuat panik, mungkin volumenya sudah jutaan lot yang menjual. Apalagi jaman informasi, mana bisa menyembunyikan sesuatu selamanya. Kebenaran akan selalu terungkap. Tapi bisa juga benar, dan ini bisa saja baru ketahuan kejelasannya beberapa hari kemudian, persis seperti setahun yang lalu. Kami juga membahasnya. Bisa dibaca di sini. https://saham-indonesia.com/2016/01/tiga-pilar-sejahtera/

Dari sisi berita, kami cek di pengumuman resmi di web IDX, terakhir adalah tentang penggunaan Sukuk dia. Seharusnya ini bagus, karena mereka mendapat kepercayaan lagi untuk mendapat dana yang akan dipakai untuk membayar hutang lama.

Dari sisi perusahaan, dengan penurunan harga, berarti diskon, dan diskon adalah surga bagi pembeli. Seberapa diskon yang kita harapkan? Kita cek Rasionya. Dengan data Q3 2016, EPS TTM AISA ada di 128.53. Maka PERnya adalah 12.25. Ini sudah ada di kategori level pesimis. Apakah manajemen juga pesimis akan prospek 2017? Untungnya ada rekan grup yang mencari tahu, dan tidak ada perubahan.

Jika AISA bisa Balik ke PER optimisnya di 20, maka seharusnya harga bisa ke sekitar 2500. Kapan tercapai? Tidak tahu. Apakah sekarang sudah bisa beli, tidak tahu juga. Anda harus mengerjakan PR anda sendiri, kemudian dari hasil PRnya, baru memutuskan harus bagaimana.

Tapi bagi kami, terlepas dari sahamnya, setiap penurunan berarti risiko berkurang dan potensi reward bertambah. Maka peluang membeli terbuka. Kebalikannya jika harga naik. Berarti risiko bertambah potensi reward berkurang.

Dan apa artinya chart di gambar? Untuk warna warni saja. Mengenai artinya, biar kan para chartist yang menganalisanya. Bisa dicek di fitur NEO HOTS terbaru dari Mirae Asset Sekuritas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link