Integritas

  • Save

 

Integritas

Ada perbedaan besar ketika mengatakan sesuatu dan melakukan sesuatu. Ketika berkata, waktu dan energi yang dibutuhkan untuk melakukannya sangat sedikit. Beda dengan ketika akan melakukan. Apalagi manusia ada kecenderungan untuk mengutamakan diri sendiri terlebih dahulu.

Apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara sangat bagus. 3 hal yang menjadi fondasi pendidikan di Indonesia. Kami menggunakan ini juga karena dalam berinvestasi, yang pertama dibutuhkan adalah meningkatkan kapasitas, dan meningkatkan kapasitas jelas butuh pendidikan.

Dari yang pertama, di depan memberi contoh. Artinya investor yang telah berhasil atau telah melalui Prosesnya seharusnya memberikan contoh bagaimana mereka melakukan. Seperti para Master yang telah mencapai kesuksesan, mereka menulis buku supaya kita bisa belajar dari apa yang pernah mereka alami.

Pepatah mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, tapi bukankah pengalaman orang lain lebih baik lagi, karena kita tidak perlu membuang waktu uang dan energi untuk mencoba lagi. Tidak logis kalau sudah ada jalan mencapai tujuan, kita tinggal mengikuti, tapi kita masih ngotot membuka jalan baru.

Karena yang Master menjadi role model, sudah seharusnya harus ada integritas untuk itu. Tidak mungkin kita mengajarkan orang berenang jika kita sendiri tidak bisa berenang.

Kemudian yang kedua. Di tengah memberi semangat. Inilah salah satu gunanya komunitas. Semua orang di dalamnya punya visi dan misi yang sama sehingga komunitas ini bisa maju. Ketika ada yang sedang terpuruk karena mungkin meragukan saham pilihannya, adalah tugas orang di dalam komunitas untuk saling mengingatkan. Orang baik akan membantu kita meningkatkan kapasitas, dan sebaliknya, yang tidak baik akan memanfaatkan kekurangan kita supaya dia sendiri mendapat untung.

Investor Sejenis akan Terbang Bersama. Bagaimana lingkungan kita, akan ditentukan juga bagaimana cara pandang kita sendiri. Jika ingin bergabung di lingkungan yang saling membantu, adalah tanggung jawab kita juga untuk memulai terlebih dahulu. Bantu yang sedang membutuhkan.

Tujuannya bukan supaya nanti bisa ditagih balik, tapi jika kita membiasakan diri membantu orang, kita akan membuat lingkungan kita sendiri menjadi kumpulan orang yang senang membantu. Ini sama juga di saham. Jika kita terbiasa memilih saham yang jelek karena ingin cepat kaya, maka lingkungan kita akan dipenuhi saham jelek yang malah membuat kita susah kaya. Jika kita terbiasa memilih saham bagus, maka kita akan melihat banyak peluang bagus juga.

Ini namanya kekuatan fokus. Seperti ketika kita di jalan, tidak pernah menyadari warna mobil, tapi ketika kita berpikir mobil Putih, maka dalam seketika jalan penuh dengan mobil Putih. Ini sederhananya, tapi dalam memilih saham, jelas butuh lebih banyak informasi. Misalnya, apa indikator saham bagus? Di sini pentingnya kita belajar.

Tidak logis kita bisa memilih durian terbaik di pengalaman pertama, butuh latihan untuk itu. Dan tidak logis jika sudah bertahun-tahun kita masih tidak bisa memilih durian terbaik. Berarti ada yang salah dengan cara kita. Sama kan di saham? Dan komunitas akan membantu kita mempercepat peningkatan kapasitas kita. Karena itu, jika sudah bertemu dengan yang tepat, saling bantulah.

Dan yang terakhir, di belakang memberi dorongan. Ketika suatu hari kita sudah berhasil, saatnya yang lain maju, kita harus memberi dorongan supaya mereka juga bisa seperti kita. Bukan dijegal supaya kita menjadi lebih berhasil lagi. Dan ketika ada orang-orang hebat di depan kita, sudah sepantasnya kita memberikan kredit pada mereka. Semua orang yang pernah kami tulis karena memang mereka saat itu special, kalau ke depan, tidak ada yang tahu bakal berubah atau tidak. Dan yang belum, mungkin belum ketemu moment yang tepat.

Dan tidak logis jika kita berhasil di atas penderitaan yang lain. Makanya mengapa Saham-Indonesia tidak akan pernah sekalipun membahas tentang bagaimana membeli saham jelek, walau harganya naik 100x lipat.

Coba dipikirkan jika sebuah perusahaan yang tidak ada nilainya, terserah bagaimana kita menilainya. Ketika harga saham perusahaan ini bergerak naik, karena tidak ada nilainya, berarti harga akan kembali ke kondisi wajarnya di bawah. Jika kita punya sahamnya dan berhasil menjual di harga yang tinggi, bukankah ada orang yang siap-siap rugi dan memegang kerugian ini bertahun-tahun karena membeli saham kita?

Salah satu komentar dari Charlie Munger, patner Warren Buffett, dikatakan Berkshire Hattaway bisa mendapat keuntungan lebih besar dengan berinvestasi di saham yang abu-abu, tapi itu tidak mereka lakukan. Karena mereka tahu itu akan menyebabkan ada pihak yang menderita.

Bahkan di buku One Up on Wall Street, Peter Lynch membahas, yang membuat Warren Buffett menjadi yang terbesar adalah ketika harga saham menjadi terlalu mahal, dia mengembalikan semua dana investornya dibanding ngotot meminta mereka terus berinvestasi.

Dibutuhkan orang yang benar-benar komitmen dengan integritasnya supaya bisa melakukan ini. Dan integritaslah yang nanti akan menjadi penerang kita dalam perjalanan investasi kita. Karena yang akan menentukan keberhasilan kita adalah kita sendiri.

Dan Selamat merayakan Imlek serta selamat berlibur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link