Apa Cita-Citamu

  • Save

 

Apa Cita-Citamu
 
Sejak kecil kita pasti pernah ditanya sudah besar mau jadi apa. Berbagai jawaban akan diberikan. Misalnya saja ada yang berkata, mau jadi presiden. Apa reaksi kita yang mendengar nya? 
 
Ada 3 hal yang bisa kita lakukan. Memperhatikannya, tidak peduli, atau mengejek teman tersebut. Selalu ada 3 pilihan, karena kita suka, tidak suka, dan tidak peduli. Ini adalah cara kita berhubungan dengan apa yang ada di dunia kita. 
 
Bertemu yang disukai, kita akan condong untuk melihat kelebihannya, jika tidak peduli, kita akan bersikap cuek, dan jika kita tidak suka, maka kita akan melihat kelemahannya. Sudah biasa kejadian seperti ini. Semua hal di dunia pasti akan seperti ini. 
 
Sekarang, bagaimana cara kita mengambil manfaat dari hal ini. Untuk yang bagian tidak peduli, jelas tidak ada yang bisa dilakukan. Sedangkan untuk tidak suka, harus dilihat, jika kita tidak sukanya karena landasan kebencian, jelas harus diubah. 
 
Bagian suka terhadap sesuatu, biasanya kita akan langsung melebih-lebihkan semua hal tentang objek itu. Makanya Dibilang cinta itu buta. Kita bisa coba mundur sedikit, fokus pada ketertarikan saja, tidak perlu menjadi lebay. 
 
Contoh di atas, jika ada yang mengatakan ingin jadi presiden, perhatikan. Apakah dia serius dengan perkataannya. Apakah orang itu punya kapasitas untuk mencapai itu. Dan apakah orang itu melakukan hal yang mendekatkan dirinya mencapai tujuan mencapai presiden? Jika ya, dan kita berada dekat dengan hal ini, maka kita sendiri akan mendapat manfaat. Jelas saja, jika presiden butuh orang yang bisa dipercaya, siapa yang dicarinya, yang setiap hari jadi lawan nya atau yang menjadi temannya. Ini pilihan logis. 
 
OK, hubungan cerita di atas dengan saham adalah sebagai berikut. Kami berikut contoh saja. Untuk sahamnya, silakan dicek apakah bisa menganalisa dengan metode ini atau tidak. 
 
Dua tahun lalu ada sebuah perusahaan yang mengatakan mereka ingin menguasai pasar satu negara sebanyak 5%. Sekarang posisi mereka di sekitar 1%. Pertanyaannya apakah mereka mungkin? 
 
Kita lakukan perhitungan sejenak. Setiap hari penduduk di negara itu satu orang mengkonsumi barang ini sebanyak 0,3 kg. Jadi untuk 1 tahun daya konsumsi 1 orang adalah 0,3 kg x 365 hari. Didapatlah angka 109 kg. Katakan lah cuma 100 kg. Dan di negara ini terdapat sekitar 200 juta jiwa. Maka total barang ini dikonsumsi sebanyak 20 juta ton. Jika dicek dari hitungan pemerintah, mereka mengeluarkan angka 27 juta ton. Maka angka hitungan pribadi kami adalah realistis. 
 
Jika 1% adalah dari perusahaan ini, di angka 200 ribu ton. Maka 5% adalah 1 juta ton. Jika 1 kg produknya dijual seharga 15 ribu, maka pendapatan perusahaan ini adalah 15 trillun. Tambahan lagi, ternyata perusahaan ini menjual produk ini 70% dan barang lain sebanyak 30%,  maka total pendapatan perusahaan ini ada di sekitar angka 21.5 trillun. 
 
Jika margin bersih perusahaan adalah 6.5%, maka laba bersih perusahaan adalah 1.4 trillun. Dengan jumlah saham beredarnya di 3,218 Milyar lembar, maka laba per saham perusahaan ini ada di 435. 
 
Jika PER industri yang wajar antara 20-30, maka nilai wajar perusahaan ada di antara 8.700 s/d 13.000. Jika perusahaan ini ada di sekitar harga 2.000, dan dalam beberapa tahun ke depan bisa mencapai valuasi seperti di atas, apakah layak untuk dibeli? 
 
Layak untuk dibeli sekarang harus dilihat, apakah orang di dalamnya punya kapasitas dan kemauan untuk mewujudkan target mereka? Untuk itulah kita perlu mengikuti cerita, melihat bagaimana perusahaan semakin dekat atau semakin jauh dengan tujuan mereka. 
 
Bagaimana cara orang di dalamnya berbicara, berpakaian adalah kecil pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan. Seperti contoh seekor kucing, terserah mau warna apapun, bisa mengeong atau tidak, yang penting bisa menangkap tikus. Jangan terlalu terpengaruh akan pengalihan isu. Tidak ada gunanya. 
 
Demikianlah sekilas bagaimana perusahaan ini bisa menjadi top pick kami. Bagaimana dengan perusahaan lain? Silakan lakukan analisa sendiri, yang mana yang bisa menjadi the next president. 
 
Ups, dalam buku One Up on Wall Street dikatakan, haram mengucapkan kata the next, biasanya akan gagal. Apakah benar seperti itu? Silakan analisa masing-masing. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link