Lingkaran Kompetensi

  • Save

Lingkaran Kompetensi
Bagaimana cara memilih saham. Ada ratusan. Apakah tiap hari kita harus melakukan perhitungan? Jelas kegiatan yang sangat menyita energi dan waktu. Dan momen ketika kita selesai, peluang mungkin sudah terbang.
Jadi, karena kita menyadari diri kita punya keterbatasan, kita membuat lingkaran kompetensi. Yaitu batasan mengenai apa yang sebaiknya kita investasikan. Jika ada di dalam batasan ini, kita ambil. Jika di luar, maka kita buang.
Faktor utama jelas adalah likuiditas. Yaitu jumlah volume transaksi per hari harus memenuhi jumlah tertentu. Karena tanpa likuiditas, kita sangat sulit untuk keluar jika ada masalah dalam perusahaan. Kerugian dari membuang perusahaan yang tidak likuid jelas kita tidak akan mendapat perusahaan yang baik tapi belum bersinar. Dan kecil kemungkinan mendapat saham baggers seperti ajaran dari , yang selalu kami rujuk sebagai pedoman berinvestasi kami.
Tapi balik lagi, yang harus dilakukan dalam berinvestasi paling utama adalah melindungi modal. Dan uang mati adalah tidak ada gunanya. Ini seperti cerita Li Ka Shing ketika dia memberikan 2 dollar kepada orang yang membantunya memungut 50 cent. Alasannya, uang 50 cent yang jatuh kemungkinan akan menjadi mati di sana, tapi 2 dollar yang diberikan akan memutar roda ekonomi. Ini berbicara tentang mempertahankan modal.
Ini lingkaran pertama. Lingkaran kedua adalah dari yang kami kuasai. Jika bisnisnya sulit untuk diprediksi, maka kami akan hindari. Alasannya karena tidak mungkin ada manusia yang bisa menguasai segala hal. Karena inilah, kita membuat batasan terhadap diri kita. Misalnya saja, grup investasi kami membahas sebuah saham yang sedang hot. Tapi jika saham ini naik dari 300 ke 1000, kami juga tidak mengkuatirkannya. Karena memang dari awal tidak ada dalam rencana.
Kalau kita selalu menghitung yang tidak kita punya, cepat atau lambat kita akan kehilangan yang kita punya. Kita tidak kuatir saham tersebut, tapi jika ACES naik ke 1000 dan kami tidak punya, maka itu lebih gawat. Alasannya adalah untuk apa capek-capek memasukkan ke daftar jika kita tidak mengambilnya ketika ada peluang. Ngomong-ngomong, ACES sudah tidak ada di portofolio karena kami sudah pindah ke saham lain. Ini berbicara tentang bagaimana mendapat keuntungan.
Lingkaran ketiga, adalah mengenai bagaimana tingkah laku manajemen di perusahaan. Di buku Moat dibahas, manajemen tidak terlalu berpengaruh kepada bisnis, karena manajer hebat datang dan pergi, bisnis hebat akan bertahan lama. Tapi kami pribadi memasukkan ini ke dalam penilaian kami. Dan cara penilaian kami mungkin agak subjektif, tapi dasar pemilihan saham semua orang juga memang subjektif. Kalau ada 1 saham yang menjadi favorite semua investor, sudah pasti tidak ada offer di saham itu. Terjadinya transaksi membuktikan ada yang suka dan tidak suka terhadap kondisi saham pada saat ini.
Penilaian kami menyangkut tentang GCG. Dan kami membaginya menjadi 4 bagian, yaitu bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan, supplier / rekan bisnis, pelanggan, dan lingkungan. Jika ada masalah di salah satu faktor, pada akhirnya laba akan terganggu. Dan laba adalah urat nadi dalam kinerja saham secara jangka panjang.
Jika karyawan tertekan, maka produktivitas akan terganggu. Jika supplier dan rekan bisnis ditipu, siapa yang mau bekerja sama dengan mereka. Akibatnya biaya perusahaan akan naik, karena mungkin harus mencari lebih jauh dan lebih susah. Masalah kepercayaan bahkan menjadi isu utama di dunia hitam. Tidak ada maling yang ingin dikhianati oleh rekannya. Jadi mengapa kita yang ingin menjadi orang baik mau dikelilingi perusahaan bermasalah ini?
Kemudian jika perusahaan suka menipu pelanggan atau merugikan pelanggan, efeknya pelanggan tidak akan melakukan transaksi lagi. Contoh terdekat seperti United Airlines yang memperlakukan pelangganannya dengan kasar hanya demi keuntungan sendiri.
Dan terakhir, terhadap lingkungan. Jika perusahaan kerap tidak peduli pada lingkungan, cepat atau lambat akan ada orang yang dirugikan, dan bisa saja perusahaan akan dituntut ganti rugi. Jadi pada akhirnya ini adalah tentang keuntungan. Kita jelas ingin dekat dengan perusahaan yang menguntungkan dan jauh-jauh dari perusahaan yang merugikan.
Mengapa budaya manajemen penting bagi kami. Alasannya adalah model investasi kami sederhana. Sebisa mungkin tidak melakukan pengecekan terlalu banyak terhadap perusahaan supaya bisa yakin untuk tetap memegang sahamnya. Investasi itu sendiri janganlah menjadi tujuan. Tapi gunakanlah investasi sebagai kendaraan kita untuk mencapai tujuan kita. Dan ini berbicara tentang konsistensi dalam mendapat untung.
Kalau yang nomor 3 susah diterapkan, cara gampang selalu ingat 2 hal ini :
1. Kita punya standar tindakan yang akan merugikan kita di masa depan.
2. Tidak melakukan tindakan yang berpotensi merugikan yang lain.
Dengan berusaha tetap konsisten menjaga 2 hal ini, lama-lama kita akan terbiasa melihat mana perusahaan baik yang bisa dipercaya, dan mana perusahaan buruk yang bikin sakit kepala karena dikit-dikit masuk koran gara-gara kasus hukum.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link