Quo Vadis IHSG?

  • Save

 

Quo Vadis IHSG?

Setelah Indonesia mendapat investment grade, kemudian IHSG kemarin break all time high, akan kemana selanjutnya IHSG?

Bakal lanjut naik terus? Apakah karena pemikiran itu muncul sehingga pagi tadi IHSG lompat karena banyak yang panik buying takut ketinggalan kereta kemakmuran? Jika memang arah IHSG benar-benar menuju kemakmuran, mengapa sore harinya kempes dan malah menjadi merah? Bagaimana hari esok? Apakah akan merah atau bisa balik arah? Bagaimana dengan lusa? Hari berikutnya lagi dan lagi. Sungguh melelahkan berinvestasi itu.

Sebelum kita melanjutkan, kita membahas dulu hari ini. IHSG merah jelas karena banyak yang menjual. Kalau banyak yang beli, berarti hijau. Mengapa banyak yang menjual, bisa saja banyak alasan. Tapi dari Peter Lynch, ada satu yang masuk akal bagi kami. Orang menjual karena merasa mahal.

Mengapa investment grade yang harusnya bagus dan ekonomi akan menuju kemakmuran malah investor memutuskan menjual, bukan membeli? Untuk itu kita harus memahami pola pikir sebagian investor.

Investment grade walau adalah berita baik, tapi sejauh ini hanyalah sentimen. Namanya sentimen, cepat atau lambat akan habis efeknya. Dan ketika habis, maka fundamental yang akan berbicara. Di catatan kami, Laba bersih dari perusahaan yang kami ikuti naik sekitar 16% dibanding tahun lalu, dan IHSG naik sekitar 21%. Artinya ada selisih kenaikan 5%. Jadi wajar kan ada yang berpikir akan jualan dulu.

Tapi apakah dengan ini berarti IHSG akan turun 5%? Belum tentu juga. Cuma untuk kondisi sekarang, IHSG tidaklah murah. Beberapa saham membuat IHSG break high, beberapa saham masih tiarap. Kita harus pintar-pintar memilih mana yang terbaik.

Kondisi kedua. Selalu ingat berita buruk adalah baik untuk memulai investasi, berita baik adalah buruk untuk memulai investasi. Kalau baca semua pola pikir seorang value investor, semua akan membeli ketika kondisi berdarah-darah, ketika masa pesimis tiba, dan menjual ketika semua optimis. Ingat kan kata-kata Warren Buffett. Be fearful when other greed and greed when other fear.

Jadi ada investor yang memang menunggu moment investment grade keluar untuk jualan. Buy on rumor sell on news. Istilah ini juga sering muncul kan. Ini sama seperti kondisi dekat hari raya. Pedagang menumpuk barang dagangannya sebelum hari raya, dan menjual besar-besaran pada saat menjelang hari raya. Kita sebagai investor, mana pola pikir yang harus kita ikuti. Sebagai konsumer atau sebagai pedagang. Yang mana yang akan mendapat uang dan yang mana yang akan mendapat barang.

Alasan lainnya. Untuk naik lagi, IHSG butuh tenaga pendorong lainnya. Kira-kira dalam waktu dekat, apa tenaga pendorong yang lebih kuat dibanding investment grade? Coba sebutkan 1 saja. Sepertinya susah kan.

Jadi ini mungkin kondisi yang mendorong penjualan. Pertanyaan super penting. Jika semua smart money menjual, apakah kita harus menjual dan clear porto? Kami tidak tahu yang lain, tapi kami sendiri, tidak melakukan apapun selama 2 hari ini. Pembelian terakhir adalah di BSDE dan WIKA. Dengan menjual sedikit ROTI dan BBNI. Apakah kami besok akan menjual atau membeli? Satu yang pasti, jika kami mau membeli, jelas harus menjual dulu karena kami selalu full porto.

Keputusan membeli, menjual, atau tidak melakukan apapun ada di tangan kita sendiri. Jangan pernah mendengar apapun saran orang lain, karena orang lain tidak akan memahami diri kita, cara pandang kita, psikologis kita, atau tujuan kita. Akan bahaya kalau kita sendiri ketika terjun berinvestasi tidak paham diri kita sendiri, cara pandang seperti apa tidak tahu, tidak tahu mental sendiri bagaimana, dan berinvestasi tanpa tujuan yang jelas. Tidak butuh waktu lama untuk bangkrut.

Keputusan kami menjual hanyalah jika kami merasa saham yang kami pegang sudah menjadi mahal atau ketika kami melihat ada potensi lain yang lebih baik. Investment grade ada atau ada kejadian lain, hanyalah pemicu luar. Sungguh baik jika misalnya karena investment grade keluar dan AISA tiba-tiba naik ke 3500 hari ini. Ini adalah kesempatan untuk jualan bagi kami. Jual yang mahal, beli yang murah.

Satu hal yang penting, selain mengetahui nilai dari perusahaan yang kita beli, adalah batas aman membeli. Artinya jika harga melebihi batas tersebut, adalah tidak aman untuk beli. Ini namanya margin of safety. Dikenalkan oleh guru Warren Buffett, yaitu Benjamin Graham. Hal paling penting yang akan menentukan kita akan lebih cepat mencapai tujuan atau terlambat karena nyangkut.

Berapa MOS yang baik? Sayang tidak ada rumus pastinya. Ini sama seperti ibu-ibu menawar di pasar, yang jago akan selalu mendapat harga terbaik. Dan itu datangnya dari pengalaman dan belajar.

Dan untuk belajar serta pengalaman, nanti di workshop kami akan menyediakan 1 sesi untuk membahas pengalaman kami membeli setiap saham selama 2 tahun menggunakan value investing. Apa saja kesalahan dan kebaikan yang dilakukan. Ingat pepatah, guru terbaik adalah pengalaman, tapi guru yang lebih baik adalah pengalaman orang lain.

Kita tidak perlu membuang 2 tahun waktu, emosi yang terkuras karena salah keputusan dan biaya yang keluar karena Cutloss. Investasi selalu berbicara tentang rasional berpikir. Jadi jika dirasakan kita sendiri masih bingung bagaimana menjadi mandiri dalam berinvestasi, adalah lebih rasional jika kita belajar terlebih dahulu.

Untuk yang tertarik, bisa menanyakan kepada kami langsung. Untuk yang sudah paham, jadilah penunjuk jalan bagi yang belum. Dengan demikian, investasi di Indonesia akan benar-benar menjadi sehat. Yang akhirnya pasar modal Indonesia benar-benar layak mendapat rating investasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link