Dari A Sampai Z

  • Save

 

Dari A sampai Z
 
Salah satu acara yang paling kami apresiasi ketika ke Malaysia adalah mengunjungi pameran buku. Tapi sebelum itu, ada beberapa hal yang ingin kami bahas. 
 
Selain ke Kuala Lumpur, kami juga ke Penang. Satu yang menarik selain bisnis kesehatan adalah kami menemukan banyak penjual makanan yang berusia lanjut dan ramai sekali. Bahkan ada yang jualan kwe tiau di pinggiran jalan butuh 2 jam antri. Satu hal pasti, bahwa mencapai keberhasilan butuh waktu dan proses. Tidak mungkin ada jalan pintas untuk itu. Masalah yang kita hadapi di jaman serba instan. Semua mau cepat-cepat. 
 
Kemudian di proses mengantri di Malaysia. Terlihat budaya mengantri di sini di bawah Hong-Kong dan Singapore yang lebih maju. Masih ada yang berusaha menyerobot, terutama dari turis. Anehnya, tidak ditemukan masalah ini di Hong-Kong atau Singapore. Terutama di Hong-Kong yang bahkan supir bus bisa galak memarahi yang tidak antri. Dan budaya mengantri sepertinya menunjukkan tingkat kemajuan sebuah negara. Semakin besar minat mengantri dan mengikuti aturan, semakin maju negara ini. Wajar, karena dengan mengikuti aturan, semua orang tidak perlu was-was terkena masalah. Contoh kalau semua taat rambu lalu lintas, kemungkinan kecil akan terjadi kecelakaan. 
 
Hal ketiga, ketika ke Genting. Karena di hari raya Idul Fitri, macet sekali ke arah sana. Semua ingin berlibur. Macet nya dari masuk tol sampai keluar tol. Macet yang benar-benar macet. Menguji kesabaran. Apalagi sinyal HP tidak bagus ketika masuk gunung, jadi tidak ada aktivitas lain selain mengobrol, tidur, atau melihat pemandangan. Pintu tol nya sendiri rata-rata sudah pakai etoll. Perbandingannya mungkin 4 etoll banding 1 manual. Dan manual juga hanya untuk bus dan truk.
 
Dan di pameran buku, walau lebih besar dari BBW di Jakarta, tapi tidak sampai harus 24 jam buka demi mengantri di kasir. Mungkin karena orangnya tidak terlalu banyak. Dan ada jalur special bayar dengan cash. Cukup antri 2 menit untuk membayar. 
 
Nah, ada yang nanya. Kok bisa kebetulan sekali bertemu pameran buku. Seakan-akan karpet merah sudah diberikan. Atau kami ke Malaysia untuk ke pameran buku. Sebenarnya tidak. Mencapai toko buku adalah hasil dari kejadian 1 demi 1 yang saling berhubungan. Kalau diurut ke belakang, karena kami mengajak orang tua yang mengajak keponakan. Dan membuat kami mencari tempat hiburan untuk anak-anak, yang mana keponakan suka dengan ikan, sehingga kami mencari Sea world di sana. Dan supir grab salah mendrop kami sehingga kami berjalan melewati pameran buku. Ini faktor luar. 
 
Sedangkan faktor dari kami sendiri, yang paling penting adalah keputusan kami untuk masuk ke dalam. Bisa saja kami mengabaikan dan fokus bermain seperti semua turis di sana. Keputusan ini sendiri datang dari minat kami membaca buku. Jika tidak minat, mana mungkin mau masuk. Dan minat sendiri adalah dari kebiasaan yang dibangun sehari-hari. Selain minat membaca buku, ini juga datang dari niat untuk berbagi isi buku di web kami. Dan kami selalu rutin memberi door prize berupa buku yang bermutu tentang bisnis atau investasi. 
 
Jadi ada tanggung jawab untuk memberikan informasi. Dan bagi kami, kebiasaan untuk memberi hal baik kepada yang lain yang merupakan sebab kami bisa menemukan hal baik yang sejenis. Cara kerja pikiran ini tidak akan kami bagi di sini karena nanti akan panjang sekali artikel nya. 
 
Setelah panjang lebar, arti dari artikel adalah tentang proses dari satu titik menuju titik lainnya. Dan juga kesabaran. Apapun yang kita lakukan, jika itu adalah baik, akan membawa kita menuju hal baik lainnya. Kapan kita mendapat adalah relatif. Setiap orang akan mendapat hasilnya sesuai waktu masing-masing. Sama seperti di saham. Alangkah indah nya jika tiap kita beli saham tersebut langsung naik 50%. Tapi cara kerja investasi bukan seperti ini. 
 
Kita harus bersabar menunggu saham A yang mungkin butuh waktu 3 minggu. Saham B 3 bulan. Saham C 3 tahun. Kapan hasilnya berbuah adalah di luar kontrol kita. Logikanya, bagaimana mungkin menebak atau mendorong 1 juta investor melakukan hal yang sesuai harapan kita. Peter Lynch saja pernah memegang sahamnya 14 tahun. 10 tahun sahamnya tidak ke mana-mana. Orang gila mana yang tahan. Tapi begitu jalan, sahamnya memberi profit 10.000%. Penantian yang layak. 
 
Tidaklah penting punya ilmu tinggi tapi tidak ada kesabaran di bursa. Orang yang bisa menebak saham A akan mendapat profit 1.000% jika menjualnya 5 menit kemudian, tidak akan ke mana-mana dibanding investor sabar yang menunggu hasil sahamnya mencapai target. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link