Follow the Money

  • Save

Follow the Money
Akhir-akhir ini sering beredar berita ekonomi lesu. Berbagai bukti di lapangan dicari, berbagai data statistik dicari untuk membuktikan kebenaran hal ini. Apakah benar ekonomi bergerak lesu?
Untuk berita berimbang bisa dibaca di sini :
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/29/120323026/daya-beli-terpuruk-tetapi-jalan-semakin-macet
Seperti kata Peter Lynch mengenai Amerika :
Setiap hari saya mendengar negara ini akan kolaps. Uang kita yang setara dengan emas sekarang seperti kertas toilet. Kita tidak bisa menang perang lagi. Kita bahkan tidak bisa menang medali emas. SDM kita kalah dengan asing. Kita kehilangan pekerjaan kepada orang Korea. Kita kehilangan mobil terhadap Jepang. Kita kalah basket kepada Rusia. Kita kehilangan minyak pada Arab Saudi. Dan kita kehilangan muka pada Iran.
Saya mendengar ada banyak perusahaan besar tutup setiap hari. Jelas ada beberapa yang benar. Tapi bagaimana dengan ribuan perusahaan kecil yang bertumbuh dan menghasilkan jutaan lapangan kerja? Ketika saya berkeliling melakukan riset seperti biasa, saya takjub dengan banyaknya perusahaan yang masih kuat. Beberapa bahkan menghasilkan uang. Jika kita telah kehilangan jiwa bisnis dan keinginan bekerja, jadi siapa orang-orang yang terjebak macet di jam kerja?
Saya bahkan melihat ratusan perusahaan yang memotong biaya dan belajar melakukan efisiensi. Ini meyakinkanku bahwa mereka lebih baik dibanding 1960an, ketika para investor lebih optimis. CEO seharusnya pintar dan dalam tekanan untuk berproduksi. Manajer dan karyawan mengerti mereka harus bekerja keras.
Saya juga mendengar AIDS akan membuat kiamat, musim pakceklik akan membuat keruntuhan, inflasi akan membuat kiamat, resesi juga akan begitu, defisit anggaran juga sama, defisit perdagangan juga sama, dollar yang lemah juga sama. Ops, demikian juga dollar yang kuat. Mereka memberi tahuku bahwa harga properti akan terjun bebas. Bulan lalu orang mengkuatirkan ini. Bulan ini orang mengkuatirkan lapisan ozon. Jika anda percaya slogan investasi yang lama bahwa pasar saham naik karena ada kekuatiran, catatlah bahwa ada begitu banyak kekuatiran dan itu terus bertumbuh.
***********************
Situasi yang hampir sama dengan kondisi sekarang di Indonesia? Bisa saja.  Indonesia akan kolaps sebentar lagi. Rupiah sudah tidak ada nilainya, apalagi mau diredominasi. Kita susah menang di SEA Games. Pekerjaan kita direbut orang China. Bla bla bla bla. Kira-kira seperti itu. Dan buku ini dibuat di sekitar tahun 1990an. Artinya jika itu pun benar, nanti juga bakal pulih.
Tapi kami sependapat dengan pak Kasali. Ekonomi bukan sedang turun, tapi sedang berubah. Karena dunia memang selalu berubah. Karena kondisi pasti berubah, untuk apa menyalahkan perubahan itu. Bukankah adalah Tugas kita untuk mengikuti perubahan? Uang yang tadi nya mengalir ke kiri sekarang mengalir ke kanan. Jika ember penampungan kita tetap di kiri, bukankah kita melakukan pekerjaan sia-sia? Ikuti lah kemana uang bergerak. Dulu orang membeli produk. Sekarang orang membeli pengalaman. Jalan-jalan, makan enak, update status. Dulu orang dinilai dari seberapa besar rumah dan mobil nya, sekarang orang dinilai dari seberapa banyak follower mereka.
Dan baru-baru ini kami mendapat berita dari teman bahwa traveloka mendapat suntikan dana lagi yang membuatnya bernilai 2 milyar dollar. Di bawah gojek yang bernilai 3 milyar dollar, alias sekitar 40 trillun rupiah. Ini sudah lebih besar dari perusahaan properti terbesar di Indonesia. Perusahaan yang sudah bertahun-tahun berbisnis dan punya lahan di banyak kota besar Indonesia kalah dengan perusahaan yang baru berumur beberapa tahun saja yang asetnya ada di awan.
Demikian juga di saham. Ada perusahaan baru yang berkembang menjadi besar, dinamakan fast grower, ada perusahaan raksasa yang stabil dinamakan stalwart, ada perusahaan raksasa yang melambat dinamakan slow grower, ada perusahaan yang naik turun kinerjanya sesuai musim, dinamakan cyclical, ada juga perusahaan yang nyaris kolaps dan berusaha bangkit dinamakan turnaround, dan terakhir ada perusahaan yang punya harta yang sangat banyak. Semuanya dibahas di buku One Up on Wall Street.
Pada akhirnya untuk bertahan kita harus berubah, dengan terus meningkatkan diri. Seperti kata Steve Jobs, stay foolish stay hunger. Selalu merasa tidak cukup dengan siapa kita, dan terus meningkatkan diri. Tapi puas lah dengan apa yang kita miliki. Semua barang yang kita miliki juga akan berubah. Hanya pemahaman kita yang terus melekat pada kita.
Dan karena uang selalu bergerak, adalah Tugas kita untuk bisa memperkirakan kemana arah uang bergerak. Bukan mengikuti pergerakan bandar. Yang ini hampir tidak mungkin dilihat. Cukup perhatikan bisnis pada umumnya saja. Contoh sekarang jaman teknologi, maka perusahaan yang terkait teknologi juga mendapat hasil bagus. Selain itu apalagi? Juga bisa perhatikan bagaimana perusahaan yang telah ada mempertahankan bisnis mereka. Untuk yang ini bisa baca di : The Little Book That Builds Wealth,
Pada akhirnya, kita sendirilah dengan kapasitas kita yang bisa menuntun kita di karir investasi ini. Kami Saham-Indonesia cuma bisa menunjukkan jalannya. Bukan saham yang kami bahas yang penting, karena 1 minggu ke depan, 1 bulan ke depan, dunia juga akan berubah lagi. Mengikuti kemana uang bergerak jelas butuh latihan. Tapi semakin sering berlatih, semakin gampang kita melihatnya. Kami sendiri juga terus berlatih. Bahkan Charlie Munger, patner Warren Buffett di usia 90an, juga terus berlatih. Orang yang sudah di level itu saja terus meningkatkan diri, mengapa kita harus berhenti?
Karena itu, selalu stay foolish, stay hunger.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link