Diversifikasi

  • Save

 

Diversifikasi 
 
Beberapa hari lalu ada berita satelit telkom mengalami gangguan, jadi perusahaan yang menggunakan jasa satelit ini sedikit terkendala di bisnis mereka. Jadi ini adalah gangguan saja, bukan satelit yang hilang kemana. Kadang aneh juga berita yang beredar tidak bisa dipertanggung jawabkan, wajar, sumbernya saja tidak jelas. Tapi kadang kita malah suka informasi yang tidak jelas, bukannya berusaha mencari kebenaran. 
 
Fokus utama kami adalah di kebenaran karena namanya sesuatu benar atau salah, bisa dianalisa, dan kita bisa berpegang pada hal ini. Kalau namanya keburukan, seringnya malah tidak seburuk yang dibayangkan, karena biasanya manusia itu berpikir secara tidak rasional, yang melakukan analisa bisa saja lebih tidak rasional. Tidak rasional kuadrat. Dan yang membaca analisa apalagi. Tidak rasional pangkat tiga. Demikianlah keruntuhan ekonomi, karena semua bergerak tidak bisa diprediksi. 
 
Tidak bisa diprediksi inilah yang membuat sebuah bisnis harus melakukan diversifikasi. Karena bisa saja ada suatu kejadian yang tidak terduga yang membuat semua rencana berantakan. Coba saja dipikirkan, sejak di masa sekolah, berapa banyak rencana kita yang akhirnya 100% terwujud, atau ada perubahan di sana sini sehingga kita harus menyesuaikan. Kecuali kalau bisnisnya masih sangat kecil, misalnya hanya ada 1 karyawan, atau 1 produk, wajar harus fokus. 
 
Namanya kejadian tidak terduga yang bisa menyebabkan krisis atau apapun itu, jelas tidak mungkin sudah diantisipasi. Kalau sudah diantisipasi, bukan krisis lagi namanya. Tapi menariknya, perusahaan yang tangguh biasanya akan sanggup melewati krisis dengan baik, karena dari kekuatan internal nya, atau dari pengalaman mereka. Perusahaan seperti inilah yang seharusnya menjadi sandaran kita. 
 
Di investasi pasar modal, diversifikasi juga menjadi tantangan. Apalagi ada pernyataan Warren Buffett yang mengatakan taruhlah investasi anda di 1 keranjang dan awasi dengan ketat. Ini sepertinya berlawanan dengan diversifikasi itu sendiri. Tapi pernyataan Warren Buffett ini sendiri cuma secara umum. Apakah yang di maksud adalah beli 1 saham kemudian awasi secara ketat atau mengatakan supermarket saham adalah tidak baik? Tapi Peter Lynch melakukan dengan 1400 saham. 
 
Walau jumlah saham berbeda, tapi kekuatan fokus mereka sama. Yaitu menempatkan porsi terbesar di saham yang mereka ketahui dengan jelas. Tapi tidak pernah ada yang namanya single stock investment. Mungkin di masa awal Warren Buffett ada, ketika modal nya cukup untuk membeli 1 saham saja. 
 
Bagi kami, menempatkan seluruh portofolio kami di 1 saham saja adalah sangat berisiko. Bahkan AISA yang beberapa waktu adalah saham terbaik kami hanya menempati 25% portofolio. Sekarang LPCK mengambil alih posisi ini dengan porsi sekitar 20%  berkat kenaikan hampir 20% dari titik terendah nya. Walau sebagus apapun nanti proyek Meikarta, tetap saja bagi kami ada risiko yang tidak mungkin kita prediksi yang mungkin akan muncul. 
 
Beberapa buku membahas tentang standar deviasi kesalahan investasi yang mungkin terjadi dengan jumlah saham di portofolio. Ada di buku Fit Focus Finish dari Rudyanto dan 42 aturan investasi yang nyaman, 2 buku yang pernah kami baca. Penjelasan detil berapa potensi risiko dan profit yang mungkin kita hasil kan dengan berinvestasi di 1 sampai 50 saham. 
 
Bagi kami sendiri, ada beberapa point dalam membagi risiko, misalnya dari modal. Berinvestasi 10 juta, mungkin maksimal saham adalah 2. 100 juta mungkin sekitar 5 saham. Sampai 1 milyar mungkin 10 saham. Dan di atas itu, maksimal adalah 15 saham. Ini untuk memaksimalkan potensi reward. Tidak ada gunanya membeli saham terlalu banyak, misalnya cuma 2% portofolio. Sahamnya naik 100% juga cuma berpengaruh jadi 4%. 
 
Berapa minimal nya? Apakah 1 atau 5? Tidak ada ukuran pasti. Tapi bagi kami, adalah jumlah paling sedikit yang berani kita pegang yang tetap bisa membuat kita tidur nyenyak di malam hari. 
 
Kemudian juga ada risiko dari usia investor. Makin tua, porsi saham yang aman harusnya semakin besar karena kesalahan berinvestasi di saham kecil akan membuat masa pensiun kita berantakan. Lupa kan jika di masa tua kita baru berusaha mencari harta. Seperti kata Jack Ma, umur di bawah 20, lakukan sebanyak mungkin kesalahan dan belajar dari sana. Di atas 20 bekerjalah dengan bos yang hebat. Di atas 30 mulai cari apa passion anda. Di atas 40 bekerjalah untuk passion Anda. Di atas 50 bekerjalah demi orang muda. Dan di atas 60, bersenang-senanglah. 
 
Selain itu, ada risiko sektor. Misalnya kita membagi risiko ke 5 perusahaan berbeda, tapi semuanya adalah 1 sektor bank. Percuma juga kan kalau ternyata krisis finansial terjadi. 
 
Atau bagi kami, ada lagi risiko kepemilikan yang sama. Jadi walau sektor berbeda, ada risiko jika kita berinvestasi di pemilik yang sama. Ketika 1 kena masalah, semua kena. Ini bisa terjadi di grup indofood, atau lippo atau sinar mas. 
 
Ada juga Kelas saham. Saham Kelas 1 porsi nya jelas akan berbeda dengan saham Kelas 2. Apalagi saham Kelas 3. Kelas ini tergantung definisi kami, tapi awal yang baik jika kita mengukurnya dari rasio keuangan dan kestabilan bisnis perusahaan. Misalnya saham kecil yang mungkin Berlari kencang, tapi juga ada risiko jatuh, mungkin kami hanya berani 10% modal. Naik 100% adalah bagus karena portofolio naik 10%, tapi jika rugi 50% juga tidak akan membahayakan total portofolio yang cuma kena 5%.
 
Berapa angka ideal bagi kami? Mungkin 1 saham kami membatasi tidak lebih dari 30% portofolio. Kemudian 1 sektor tidak lebih dari 50% portofolio. Dan 1 pemilik tidak lebih dari 40%. Apakah angka ini baku? Jelas tidak. Ini angka bagi kami. Carilah angka yang nyaman bagi sendiri kemudian beradaptasilah sesuai perkembangan yang terjadi. 
 
Berinvestasi itu seni bukan ilmu pasti. Kita akan mengalami kesulitan jika memakai teknik copy paste saja. Profil dan latar belakang setiap orang berbeda. Lakukan metode ATM. Amati, tiru dan modifikasi. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link