Membeli di Ketinggian

  • Save

 

Membeli di Ketinggian
 
Pembahasan bitcoin ini hanya contoh, bukan ajakan membeli, karena bagaimanapun juga, investasi di bitcoin bukan bidang kami. Selalu berpatokan pada beli yang kita ketahui dan ketahui yang kita beli.
 
Dulu kami pernah mendengar tentang bitcoin ketika harganya di sekitar 500 dan melihat harganya ke 1000 dan kemudian Balik ke 700an. Setelah itu tidak pernah ada bahasan lebih lanjut lagi, sampai terakhir ada komunitas tempat kami bergabung mulai membahas bitcoin. Harga waktu itu kalau tidak salah sekitar 3000an. Apakah ada yang masuk? Kami tidak tahu. Kemudian harga naik terus dan menyentuh 5000, dan sekarang turun lagi.
 
Beberapa hal yang kami pelajari, bahwa ketika sebuah produk investasi sampai ke telinga orang yang awam tentang produk ini, sepertinya ini sudah ada di ujung titik perjalanan. Ingat saja cerita penjualan monyet oleh bandar. Tentang bubble di masa lalu, tulip Belanda, ikan Lohan, batu akik, pohon atrium. Apakah bitcoin sama seperti itu atau masih bisa naik, kami benar-benar tidak tahu. Sama tidak tahunya ketika di harga 500, 1000, atau 3000.
 
Bisa saja naik, tapi biasanya orang heboh ketika harga sudah naik tinggi dan banyak yang mendapat untung, barulah investor awam tertarik masuk karena sudah ada bukti. Tapi biasanya setelah masuk justru akan menderita, lihat saja harga bitcoin di 1000 yang dibawa turun dulu selama bertahun-tahun, atau di 3000 yang turun sampai 2000. Apakah investor bisa menahan emosi melihat aset nya mengalami penyusutan?
 
Menunggu bukti adalah Tanda Penultimate preparedness. Karena investor membeli masa lalu. Selalu ingat, berinvestasi itu membeli potensi masa depan. Jika data masa lalu saja cukup untuk modal untung, pustakawan adalah yang paling jago. Mereka punya segala buku sejarah. 
 
Ini menjadi masalah terbesar dalam berinvestasi. Ketika kita membeli produk investasi terlalu mahal, dan melihat harganya terdiskon terus. Kemudian karena tidak tahan, kita Cutloss justru ketika investasi ini mulai berbalik arah lagi. Boleh dibilang ini kesalahan yang manusiawi. Karena manusia selalu berusaha mencari kebahagiaan dan menghindari penderitaan.
 
Melompat dari kapal ketika karam adalah tindakan yang sepertinya rasional. Yang harus diperhatikan, apakah kita sudah yakin kapal ini akan karam, atau cuma oleng sebentar atau malah hanya Tanda bahaya palsu karena latihan? Ini yang membuat keputusan berinvestasi kita jadi beda. Terlalu sering melompat dari kapal ke kapal lain hanya karena kapal nya miring kena ombak akan membuat kinerja kita buruk.
 
Kita harus benar-benar berlatih melihat, apakah perusahaan yang kita investasikan hanya mengalami gangguan sebentar atau akan karam? Atau minimal kerusakannya tidak bisa membuat kapal investasi ini berjalan maksimal seperti dulu lagi. Ini di bagian teknik menjual. 
 
Kalau di teknik membeli, pelindung yang paling berguna adalah margin of safety. Semakin turun sebuah saham, semakin kecil risiko kita membeli terlalu mahal. Membeli sebuah produk di harga murah, terserah apapun itu, kemudian menjual di harga yang lebih tinggi, adalah teknik berdagang yang benar. 
 
Sekarang, bagaimana jika setelah membeli sahamnya turun terus? Ada 2 hal yang perlu kita analisa. Yang pertama, apakah margin of safety kita terlalu kecil sehingga risiko yang kita hadapi masih besar. Berarti kita perlu mengatur ulang margin of safety kita. 
 
Yang kedua, jika kita sudah merasa yang kita lakukan ini tepat, dan harga bergerak turun, bisa saja karena pasar bergerak tidak rasional. Ketidak rasional ini yang nantinya akan menjadi kunci untuk kita mendapat untung. Karena bagaimanapun juga manusia itu berusaha memperbaiki kesalahan nya. Tinggal kita menunggu seberapa cepat kesalahan ini diketahui dan diperbaiki. Baik dari sisi perusahaan yang memperbaiki kinerjanya, maupun dari sisi harga saham ketika market berusaha bergerak rasional lagi. 
 
Swing inilah yang menarik buat investor yang melakukan transaksi aktif atau disebut trader. Karena menawarkan keuntungan yang lumayan, ketika pasar bergerak dari sisi fear menjadi greed. 
 
Satu kisah kami dapatkan ketika tadi naik taxi online. Ini tidak ada hubungannya dengan saham, tapi konsep nya sama. Menurut supirnya, ketika di awal taxi online, banyak kisah menarik seorang supir bisa menghasilkan jauh di atas karyawan kantor. Ini membuat banyak orang mendadak ingin mendapat keuntungan juga. Kemudian banyak yang beralih, dan ini mendorong timbul nya persaingan merebut kue keuntungan yang terbatas. Dengan banyaknya supir, maka pendapatan menjadi turun. Karena turun, banyak yang akhirnya menyerah. Dan karena banyak yang menyerah, otomatis kue ini diperebutkan oleh lebih sedikit orang. Dan mereka yang bertahan akan mendapat untung lagi. Kemudian? Cerita akan kembali dari awal lagi. Inilah siklus kehidupan. Selalu ada masa di atas dan di bawah. 
 
Selalu ingat, ketika di atas, kita harus punya kerendahan hati untuk bisa melihat datangnya perubahan, dan ketika di bawah kita harus punya kesabaran untuk bisa menunggu datangnya perubahan. Investasi akan selalu seperti ini. Dari fear ke greed, kemudian ke fear lagi. Dan cerita akan selalu berlanjut. Tinggal tanya ke kita sendiri, kita akan berhenti di cerita di puncak, atau di lembah? 
 
 
 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link