Siapa Bossnya

  • Save

 

Siapa Bossnya
 
Sekarang mungkin sudah tidak ada, tapi dulu sekali ada salesman yang keliling dari rumah ke rumah, menawarkan produk mereka, memberikan informasi, dan memberikan sebuah harga kepada kita. Ketika kita membuka pintu rumah, tugas mereka adalah menawarkan produk. Tugas kita adalah melihat apakah produk yang ditawarkan menarik atau tidak. Jika ya, kita membeli, jika tidak, kita menolak. Dan salesman akan pergi untuk datang lagi keesokan harinya.
 
Mungkin kadang fungsi mereka adalah membeli barang di rumah kita yang tidak terlalu berguna lagi. Mereka menilai kualitas barang kita dan memberikan sebuah harga. Jika kita tidak setuju, kita berhak menolak, jika kita suka, maka kita menjual barang kita dan menerima uang.
 
Apakah transaksi wajib terjadi? Sepertinya tidak. Kecuali ada unsur Penipuan dan kita terhipnotis. Ketika kita memegang uang, kita yang punya kuasa untuk menentukan mau mengeluarkan uang atau tidak. Ketika kita memegang barang, kita yang punya kuasa untuk menentukan mau mengeluarkan barang atau tidak. Yang jadi boss siapa? Apakah mungkin kita menuruti perkataan salesman begitu saja?
 
Sekarang, bagaimana dengan investasi di saham. Apakah pasar sebagai salesman yang memberikan informasi atau bos yang selalu benar yang selalu memberi perintah kepada kita untuk melakukan ini dan itu. 
 
Salah satu yang menjadi dasar pemikiran bahwa pasar adalah bos yang memberi perintah kepada kita adalah karena pemahaman bahwa pasar selalu benar. Pasar memiliki informasi yang kita tidak tahu. Ini secara umum mungkin saja benar, karena bagaimanapun pasar berisi orang-orang pintar, punya akses informasi yang kita sebagai investor ritel tidak punya. Tapi jangan lupa, ada satu hal paling penting yang mungkin kita tidak sadari. PASAR TIDAK MUNGKIN TAHU APA TUJUAN KITA BERINVESTASI DI SEBUAH SAHAM, DAN KITA CENDERUNG MEMANDANG RENDAH DIRI SENDIRI UNTUK INI. 
 
Sengaja kami menggunakan tulisan besar, biar terlihat penting. Misalnya, bisa saja kita membeli sebuah saham yang Tujuannya adalah untuk masa pensiun kita, atau karena indikator ini dan itu mengatakan layak beli. Apakah pasar tahu itu? Kalau tidak, mengapa kita harus menuruti keinginan pasar ketika mereka memberikan penawaran yang sangat tidak masuk akal? Kuncinya adalah kita tahu apa yang kita kerjakan. Jika tidak, selalu ada keraguan dalam melakukan investasi. Selalu ingat tulisan Peter Lynch, dibutuhkan keyakinan dalam berinvestasi, karena pasar akan menghabisi semua yang tidak punya keyakinan. 
 
Keyakinan sendiri ada dua, keyakinan buta dan keyakinan karena pengetahuan. Semua pasti paham, keyakinan buta adalah tidak baik, dan kita butuh informasi dalam berinvestasi. Tapi berapa banyak yang akhirnya benar-benar mengecek informasi? Atau kita cuma pasrah menuruti keinginan pasar? 
 
Selalu ingat, ketika berinvestasi, tujuan kita adalah membeli sebuah perusahaan. Sayangnya, modal kita biasanya tidak akan cukup untuk membeli keseluruhan perusahaan, jadi kita cuma membeli sebagian kecil. Kemudian kita menabung untuk membeli lagi. Jika suatu hari harga sahamnya lebih rendah dari pembelian pertama, kita seharusnya senang karena bisa mendapat harga lebih murah. Dan kita bisa membeli lebih banyak lagi. Ini dengan catatan nilai bisnis, bukan harga bisnis, adalah tetap sama. 
 
Selalu ingat, membeli ketika murah dan menjual ketika mahal adalah prinsip pedagang sejak jaman dahulu kala. Jangan pernah dibalik, karena hukum ekonomi untuk mendapat untung masih sama dari dulu sampai sekarang. 
 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link