Laba Laba Laba

  • Save

 

Laba Laba Laba
 
Apa yang mendasari kita berinvestasi? Mencari keuntungan adalah alasan utama. Dan untuk mencari untung, secara logika kita akan mencari perusahaan yang paling menguntungkan. Semua aspek kehidupan juga begitu. Kita mendekati yang berada di puncak supaya mendapat berkah dari sana.
 
Mungkin ada metode berinvestasi di perusahaan yang sekarang sedang bermasalah dan berharap nanti akan jadi untung. Metode berinvestasi turnaround ini sedikit tricky, jadi mungkin perlu ilmu dan pengalaman lebih.
 
Kita memakai contoh saja. Katakan ada perusahaan ABC yang menghasilkan laba sebesar 10. Dengan market cap 100 maka PER perusahaan ada di angka 10. Jika kita merasa ini sudah murah dan memutuskan membeli, maka kita akan menjadi pemilik perusahaan ABC. 
 
Jika kenaikan laba bersih nya setiap tahun adalah 10% secara rata-rata untuk 10 tahun ke depan, maka laba bersih pada tahun ke10 adalah 25,94. Kita bulat kan saja menjadi 26 supaya memudahkan perhitungan selanjutnya. 
 
Katakan lah market tetap menilai perusahaan dengan PER 10. Maka valuasi perusahaan adalah 260. Maka kenaikan nilai investasi kita adalah 10.03% per tahun. 
 
Kalau memakai data ini, maka kita mungkin akan menjual karena sudah untung. Bagaimana Kalau kita melihat dari sisi lain? 
 
Jika perusahaan konsisten membagi dividen sebesar 50% laba bersih. Berarti di tahun awal jumlah dividen yang kita dapatkan adalah 5. Dividen gain yang kita dapatkan ada di bunga 5%. Itu didapatkan dari dividen 5 / modal saham 100.
 
Setelah 10 tahun, katakanlah dividen payout rationya tetap sama 50%. Maka dividen yang kita dapatkan adalah 13. 50% dari laba 26. Dan dividen yield kita adalah 13 / 100 yang merupakan modal saham kita. Persentase bunga menjadi 13%.
 
Angka 13% seharusnya cukup menarik. Apalagi kalau bisnis dari perusahaan ini terus melaju. Ini yang membuat investor yang sudah menyimpan sahamnya untuk jangka waktu lama, tidak akan menjual lagi.
 
Beberapa catatan, perusahaan yang membagi dividen 50% laba bersihnya hampir pasti tidak akan dihargai di PER 10. Kemudian untuk mewujudkan ini, jelas dibutuhkan waktu. Makanya selalu dibahas oleh investor terkenal di dunia, waktu adalah teman bagi investor yang sabar, dan musuh bagi yang tidak sabar.
 
Bagaimana dengan krisis. Misalnya ketika bunga deposito naik ke 30%. Sudah di atas saham kan? Tapi berapa lama krisis akan berlangsung. Apakah krisis 1998 masih berlangsung atau cuma ketakutan kita yang terus menghantui selama bertahun-tahun. Artinya 30% itu cuma beberapa waktu. Setelah itu, maka semua akan kembali menjadi normal. Karena namanya manusia, pasti akan berusaha untuk menjadikan kondisi tidak normal menjadi normal. Itu gunanya semua ahli dibayar. Baik di level negara ataupun di level perusahaan.
 
Dan krisis malah membuat harga saham perusahaan jatuh. Misalnya perusahaan ABC. Jika krisis terjadi di tahun ke 5, harga sahamnya 161 akan jatuh. Jika krisis membuat saham turun 50%, maka harga saham ABC akan ke 80. Berarti kita diberi kesempatan membeli lebih murah. Uangnya bisa dari pekerjaan sehari-hari kita, atau dari dividen saham. 
 
Jadi, sebagai investor, kita jelas mengharap bisnis yang kita investasikan akan berkembang terus. Situasi buruk, walau tidak diharapkan terjadi, pasti akan terjadi. Saat terjadi, itu akan menjadi moment kita menambah kepemilikan.
 
Apakah sekarang saatnya? Ketika IHSG turun terus? Saatnya mengerjakan PR masing-masing. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link