Analisa Pakai Data

  • Save

 

Analisa Pakai Data

Dari artikel sebelumnya, kita membahas tentang bagaimana mencari data. Tapi data tanpa dianalisa, tidak akan berguna. Demikian juga kalau analisa tanpa data, yaitu cuma beropini, tapi tidak berdasarkan fakta. Pokoknya harus benar. Seperti contoh di gambar. Menang mana, godzila atau king kong. Kalau kita baru melihat film king kong, jelas langsung akan mengatakan king kong yang menang. Demikian juga kalau baru melihat film godzila. Bagaimana dengan fakta sebenarnya?

Ini sama seperti di bursa saham. Setelah mengalami crash, kita akan mengatakan semua perusahaan adalah jelek. Demikian juga kalau sedang boom, semua perusahaan akan jadi bagus. Apalagi jika kita kekurangan informasi, atau karena mayoritas juga berpikir demikian. Idealnya dalam berinvestasi di pasar modal, ada perbedaan antara nilai perusahaan dan harga saham. Setelah mengetahui kualitas perusahaan, kemudian kita memberikan penilaian, barulah membandingkan dengan harga di pasar. Jadi ada kualitas, ada sebuah harga versi kita, dan ada harga versi pasar. Persis seperti dagang di pasar pada umumnya.

Ini bisa kita lakukan jika kita telah melakukan tugas kita, yaitu mengumpulkan data, kemudian melakukan analisa. Tanpa ini, kita hanya mengikuti kemauan pasar. Alias semua cuma versi orang lain. Pada umumnya, kita tidak memilih rumah berdasarkan keputusan orang lain, kita tidak memilih nanti makan berdasarkan keputusan orang lain, bahkan kita mungkin tidak memilih pasangan hidup berdasarkan opini orang lain, mengapa kita memilih investasi untuk masa depan kita berdasarkan sudut pandang orang lain? Kita tidak tahu bagaimana mereka mengambil keputusan, kita tidak tahu kapan mereka merubah keputusan itu, dan mungkin saja kita punya kualitas lebih baik dari mereka.

Apakah sudah pasti kita harus anti terhadap penilaian orang lain? Belum tentu juga. Selama kita tahu kualitas bagaimana orang melakukan analisa, kita bisa saya menerima itu sebagai masukan. Kalau tidak, berarti kita secara membabi buta mengikutinya. Seperti tulisan Peter Lynch di buku One Up, bermain poker dengan mata tertutup selalu ada kemungkinan menang, tapi untuk apa mengambil risiko tidak perlu. Peter Lynch banyak membahas tentang ini di bukunya, mungkin ada 2-3 bab. Jadi untuk tahu detil, silakan baca bukunya.

Link ada di :
Ringkasan One Up on Wall Street
http://bit.ly/2vFqQnE

Bahkan kalau kita melakukan analisa sendiri, ada kemungkinan kita mendapatkan informasi level 1 yang belum tentu dibaca orang lain. Bukankah dalam berinvestasi, informasi memegang kunci utama? Kalau kita duduk diam di depan layar komputer di rumah, menunggu informasi dikirim ke email kita, apakah informasi itu benar, jika benar, apakah masih valid waktunya. Ini yang membuat kami memilih tidak membahas terlalu detil tentang sebuah saham, karena informasi saham akan kadaluwarsa, tapi cara mendapat informasi itu akan selalu bisa digunakan. Contoh paling gampang, dulu kami memilih AISA sebagai saham pilihan, tapi dengan kekisruhan yang terjadi selama setahun ini, jelas AISA bukan pilihan lagi. Bagaimana dengan orang yang cuma membaca 1x artikel kami kemudian memutuskan untuk menggunakan seluruh hartanya membeli AISA dan memegang sampai sekarang? Atau malah sekarang baru membaca dan memutuskan untuk membeli hanya karena dulu kami pernah membahas.

Walau selalu ada disclamer on dalam membahas investasi, tapi nilai guna artikel yang membahas tentang isi perusahaan sepertinya tidak besar. Dan pada akhirnya akan membuat ketergantungan pada kami. Artinya kami sendiri harus bekerja terus untuk memberi makan informasi kepada setiap investor baru. Lebih baik menciptakan seorang investor yang mandiri, yang kemudian bisa menciptakan lagi investor mandiri berikutnya. Apakah semua akan berhasil? Dengan pasti kami akan berkata tidak. Selalu akan ada yang memilih tidak menggunakan jalan value investing, tapi itu bukan masalah, karena pada akhirnya investor sejenis akan terbang bersama. Tinggal kita sendiri yang memutuskan, mau mengambil jalan seperti apa. Yang tidak sejenis, tidak perlu dipusingkan lagi.

Ada artikel bagus dari kompas tentang bagaimana kita mengambil keputusan biasanya bukan karena kemampuan kita menganalisa data secara mandiri, tapi karena tekanan sosial. Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi kami untuk memilih bersama investor yang memiliki visi dan misi yang sama. Akan sangat pusing jika kita ingin ke kiri dan sebagian memutuskan ingin ke kanan. Mana yang benar? Semua balik lagi ke pribadi masing-masing. Semua bebas menentukan pilihannya, tapi wajib menerima akibat dari pilihannya. Sama seperti dalam menganalisa, dengan data maka ada akibatnya, tanpa data, juga ada akibatnya.

Akibat yang menjadi penyebab berikutnya. Artinya keputusan yang kita buat bukan merupakan akhir. Selalu ada apa yang berikutnya. Demikian juga keputusan manajemen. Selalu ada apa yang berikutnya. Makanya kondisi perusahaan akan selalu naik dan turun berdasarkan apa yang diputuskan manajemen. Dan semakin banyak keputusan yang didasarkan pada cara yang baik, maka yang berikutnya kita akan semakin terlatih. Demikian juga keputusan yang didasarkan pada cara yang tidak tepat. Yang baik akan membuat kita makin naik alias hidup spiral up, dan yang tidak baik akan membuat hidup kita spiral down. Yang mungkin akan terlihat setelah 10-20 tahun ke depan. Inilah gunanya berpikir secara jangka panjang.

Link bahasan dari kompas :
https://edukasi.kompas.com/read/2018/08/20/15553111/tekanan-sosial-hampir-selalu-mempengaruhi-setiap-keputusan-kita

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Copy link