All You Can Eat

  • Save

 

All You Can Eat

Suatu hari kita tiba-tiba diajak teman makan di restoran all you can eat, alias restoran makan sepuasnya. Kita yang biasanya makan sudah ada menu pasti tiap hari, jika masuk restoran all you can eat akan bingung sendiri mau makan yang mana dulu. Apalagi jika restorannya belum pernah kita masuki.

Kalau kita sudah tahu ada rencana makan all you can eat, sudah tentu kita akan melakukan beberapa perubahan, misalnya menyediakan dana, kemudian tidak makan dulu sebelum ke restoran. Bahkan mungkin kita akan puasa supaya nanti bisa makan lebih banyak dan puas.

Kemudian pas di restoran, kalau kita belum tahu mau makan apa biasanya kita akan keliling dulu melihat-lihat, baru mencoba sedikit menu yang ada, mengetes mana yang nanti akan kita ambil. Setelah yakin dan tahu mana yang enak, barulah kita menambah.

Dan kita makan juga tidak sampai melebihi kapasitas kita sehingga jadi sakit atau bahkan lebih parah kalau sampai meninggal. Kita makan supaya untuk bertahan hidup, jangan sampai mati karena makanan.

Nah, dalam berinvestasi kita juga bisa menerapkan hal yang sama. Biasanya kita setiap waktu secara berkala menabung di saham yang sudah kita analisa. Kemudian tiba-tiba karena berbagai kondisi bursa saham jatuh. Dari yang biasanya bingung saham apa yang sedang murah dan layak beli, tiba-tiba kita dihadapkan pada kondisi bingung karena terlalu banyak saham murah yang layak beli.

Terlalu banyak pilihan akan membuat kita susah mengambil keputusan. Jika sudah beli ternyata ada lagi saham yang lebih murah, atau harga saham yang kita beli menjadi makin murah? Ini seperti di restoran, setelah selesai makan 1 porsi, keluar porsi lain yang sepertinya lebih enak, padahal kapasitas perut terbatas. Apa pilihan yang kita ambil.

Sebagai gambaran, dulu di jaman Romawi kuno ada kaisar bernama Nero. Konon supaya tetap bisa pesta terus-menerus, maka setiap selesai makan, semua makanannya dimuntahkan lagi. Rasanya kita tidak perlu demikian karena nasib kaisar Nero itu juga tidak berakhir bahagia.

Adalah menyadari kemampuan diri dan tidak melebihi kemampuan itu yang membuat kita tetap selamat. Di makan, di olahraga, di kerja, dan demikian juga di investasi. Bagi kami lebih penting adalah membuat kebiasaan yang bisa terus dilakukan secara konsisten dibanding berusaha mencoba hal baru yang nanti harus diubah lagi.

Artinya biasanya menabung di hari normal, sekarang juga sama, bedanya kita sekarang menabung di harga lebih murah. Beberapa waktu lalu, diskusi dengan teman. Intinya yang paling penting buat kita adalah cash flow. Selama ada dana, kita tentu tidak kuatir, jadinya berani membeli. Coba kalau tiap hari ada dana, maka kita tidak memikirkan untuk menjual. Kita menjual atau cutloss karena takut dana habis. Jadinya harus menciptakan dana lagi. Dana segar bisa didapatkan dari 3 hal, , gain, dan topup berkala. Bagaimana detilnya, sesuaikan dengan kondisi masing-masing. Untuk kondisi sekarang, mengharap capital gain jelas agak susah, dan dividen gain juga hanya waktu tertentu, jadi topup yang menjadi solusi jangka pendek. Apakah dengan kita berhemat di bagian lain, atau memang sudah ada rencana rutin dalam menabung saham.

Asumsikan saja berinvestasi rutin ini seperti berinvestasi di properti. Bulan ini mencicil 10 juta, bulan depan diberi tahu oleh bank cicilan menjadi 8 juta, tentu kita senang. Apalagi cicilan menjadi 5 juta, berarti kita bisa membeli 2 rumah yang sama. Demikian juga seharusnya di saham, bayangkan kalau bulan lalu kita membeli saham di harga 1000, sekarang menjadi 500. Tentu saja ini dengan catatan kita sudah mengerjakan PR kita di awal, yaitu memahami apa yang kita beli.

Sama seperti kita masuk restoran, misalnya restoran asing dengan menu berbahasa yang kita tidak paham, dan tidak ada gambar. memilih makanan yang tidak cocok jelas ada. Jika kita tidak memilih makanan dengan cara demikian, mengapa membeli saham yang lebih mahal kita berani membeli kucing dalam karung.

Apapun yang kita lakukan, tujuannya adalah membangun aset semaksimal mungkin. Walau kita bisa bilang, nanti setelah harga saham jatuh baru kita membeli, apa jaminan hari ini beli besok tidak lebih turun. Pada akhirnya kita akan memakai dana kita. Bagaimana caranya kita yakin ada metode yang setelah membeli maka harga beli kita adalah paling rendah. Yang penting adalah kita memberi waktu pada uang hasil membeli saham bisa menciptakan nilai supaya bisa naik nilainya. Berapa batas waktunya, itu semua tergantung lagi kesabaran kita ditambah pengetahuan yang ada. Pengetahuan tanpa kesabaran atau kesabaran tanpa pengetahuan tidak akan menghasilkan apapun.

Dan kesabaran hanya bisa diuji ketika kondisi tidak sesuai harapan kita. Kalau semua sesuai harapan, jelas tidak dibutuhkan kesabaran. Tapi kita harus realistis kondisi apapun selalu akan berlalu. Misalnya sekarang bursa kembali ke harga 2014. Apakah kita melihat sebagai bencana karena aset kita jalan di tempat atau melihat sebagai kesempatan membeli lebih banyak, semua pilihan ada di tangan kita sendiri.

Apapun yang kita putuskan dulu akan mempengaruhi kehidupan kita hari ini, dan apa yang kita putuskan hari ini, akan menentukan masa depan kita. Salah satu keputusan paling berharga yang kami lakukan adalah berkomitmen hidup tanpa hutang, alias tidak mencicil apapun yang mahal. Mungkin di masa senang kelihatannya kalah maju dibanding banyak orang, tapi di masa sulit, kami bisa lebih tenang dalam memutuskan harus diarahkan kemana dana kami.

Tidak ada yang benar atau salah dalam mengambil keputusan, yang ada hanyalah kita nyaman atau tidak dengan hasilnya. Jika tidak, saatnya merubah arah. Ingat selalu petunjuk Buffett, jangan kehilangan uang, dan selalu ingat aturan ini. Atau petunjuk Munger, jika tahu tempat yang bisa membunuh kita, maka kita sebaiknya tidak ke sana. Sama juga, jika makan terlalu banyak membuat kita menderita, maka kita harus makan secukupnya. Berinvestasi juga sama, jangan berlebihan melakukan hal yang bisa membuat kita berhenti.

Secara fisik, jangan sampai covid-19 menyebabkan kita meninggal, di mana kita cari mati justru mencari penyakit, dan secara finansial, jangan sampai kejutan efeknya membuat kita menyerah dalam mencapai tujuan finansial. Intinya sehat secara fisik dan mental sampai akhir hayat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link