The Accumulation Year

  • Save

Setelah tahun lalu dunia jungkir balik karena covid-19, tahun ini adalah terusan dari apa yang terjadi sebelumnya. Dengan kejadian yang sudah hampir 2 tahun, idealnya manusia sudah harus beradaptasi terhadap kondisi yang ada. Tidak mungkin berharap tidak ada covid dan ngotot tetap melakukan aktivitas seperti sebelum era covid. Manusia yang bisa beradapatasi terhadap perubahanlah yang akan selamat.

Jika tahun lalu adalah tahun untuk memulai baru, maka tahun ini haruslah merupakan pengembangan lebih lanjut. Alias momen untuk mengakumulasi apapun yang sudah kita mulai sebelumnya. Yang paling penting dan di tahap pertama adalah akumulasi sifat-sifat baik. 3 kesehatan terpenting adalah fisik, mental, dan finansial. Jadi fokus akumulasi sifat baik adalah tujuannya supaya ketiga hal ini menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.

Bukan hal gampang jika kita tidak punya kebiasaan yang mendukung, karena ketika memulai, kita harus membuang kebiasaan lama terlebih dahulu. Misalnya dalam hal mengumpulkan aset supaya demi masa pensiun. Untuk memulai ini, maka kita harus membuang kebiasaan berhutang untuk kenikmatan jangka pendek. Status hutang nol harus dicapai dulu. Ini tidak gampang, apalagi untuk yang sudah terbiasa berhutang dalam hidup. Bahkan banyak statement mengatakan dengan berhutang barulah hidup bisa bergairah karena kita dipaksa untuk bekerja keras melunasi hutang.

Tapi kalau kita jeli mengamati, sebenarnya yang dibutuhkan adalah emosi dalam mengejar sesuatu. Jadi kita mengganti emosi ketakutan digulung hutang menjadi emosi semangat untuk mencapai dana pensiun. Jika berhutang, maka ada batas atas yang berbahaya untuk dilewati. Tapi dalam hal dana pensiun, semakin besar semakin baik. Tidak perlu ahli matematika untuk menghitung mana yang lebih baik untuk kita.

Jadi tahun ini adalah momen untuk meningkatkan yang sudah ada, dan membangun sifat baik yang belum ada. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu. Dalam hal mencapai dana pensiun, kebiasaan membaca, menabung, berhemat, menggunakan uang sesuai nilainya, adalah beberapa hal baik. Selain 6 sifat dasar yang terus kami biasakan, yaitu rasa berkecukupan, disiplin diri, kesabaran, semangat berusaha, latihan konsisten, dan daya nalar sesuai logika.

Untuk mencapai yang lebih baik, maka 3 hal terus kami kejar, yaitu mentor yang bisa memberi penerangan di jalan yang akan ditempuh, ilmu yang sesuai dengan tujuan kita, dan terakhir adalah lingkungan yang mendukung. Tidak logis jika maunya mencapai kebebasan finansial, tapi kita berkumpul dengan komunitas foya-foya tanpa hari esok.

Kalau dilihat, sebenarnya untuk mencapai adalah sederhana saja metodenya. Pendapatan sebesar-besarnya, pengeluaran seperlunya, dan selisihnya diinvestasikan ke produk atau aset yang kita kuasai. Yang susah adalah konsisten dalam menjalankan. Jika kondisi normal, maka butuh sekitar 15-20 tahun untuk proses ini. Terlihat lama, tapi jika kita memulai di usia 20, maka target akan tercapai di usia sekitar 35-40 tahun. Di lingkungan kita, berapa banyak yang bisa bebas finansial dan melakukan apapun yang disukai di usia tersebut? Ini yang logis, jalan yang bisa ditempuh banyak orang.

Yang tidak logis adalah memulai di usia 40/50/60 dan berharap pensiun kaya raya dalam waktu singkat, 2-5 tahun saja. Pemikiran yang wajar karena waktu bukan di pihak kita, berbeda ketika kita memulai lebih muda, waktu adalah teman. Dan karena waktu terbatas, maka biasanya manusia berinvestasi di produk yang tidak masuk akal, supaya bisa lebih cepat mencapai tujuan. Dipikir saja, kalau benar ada aset yang begitu menggoda, mengapa konglomerat atau ahli investasi di dunia justru tidak tertarik untuk mengambilnya. Jika kita melakukan hal yang tidak kita kuasai, benar kita akan pensiun, tapi tidak kaya raya, alias pensiun bangkrut. Dan waktu yang terbuang mencoba hal yang buruk adalah berbahaya. Karena waktu yang sedikit justru dibuang begitu saja.

Dan yang paling berbahaya adalah kebiasaan buruk yang sudah dibentuk. Rata-rata yang sudah mengalami mentalitas judi, malas berusaha dan mau hasil cepat, tidak akan bisa menerima jika ditawarkan aset yang lebih masuk akal. Jawabannya selalu lambat atau susah dipelajari. Tapi apakah susah?

Misalnya saja untuk saham yang aman. Saham dari perusahaan terbaik. Walau sepertinya lambat, tapi karena aman kita justru bisa menaruh sebanyak mungkin dana kita di sana, dan tetap tidur nyenyak di malam hari. Coba saja masuk ke aset sampah, setiap saat kita bisa kuatir. Sekarang mungkin belum terasa, tapi coba saja merasa kuatir selama bertahun-tahun, kesehatan fisik dan mental kita akan tergerus, dan kalaupun kita berhasil mengumpulkan uang, nanti juga akan habis membayar biaya kesehatan.

Salah satu indikator yang sering kami pakai adalah dividen. bisa memberi banyak manfaat, misalnya saja :

  1. Untuk menghitung valuasi, misalnya jika ada perusahaan membagi 10% vs deposito 5%, jelas lebih menarik perusahaan ini. Atau kita bisa bandingkan dengan sejarah dividennya. Jika lebih besar, maka sekarang adalah kesempatan membeli.
  2. Sebagai tambahan modal. Tidak ada yang tidak suka uang gratis. Dengan uang dividen, kita bisa membeli lebih banyak lagi perusahaaan ini supaya tahun depan mendapat lebih banyak dividen, atau untuk membeli perusahaan lain. Ini metode yang dipakai untuk terus berkembang.
  3. Perusahaan yang membagi biasanya akan mengalami koreksi lebih kecil ketika krisis. Ini membuat mental kita lebih tenang dalam menghadapi penurunan harga saham.
  4. Dan perusahaan yang berani membagi dividen, berarti tanda perusahaan yang sehat. Kita tinggal mengikuti perkembangan perusahaannya saja menggunakan metode kita masing-masing. Dalam hal ini, kami memakai jalur Buffett, apakah bisnis tetap sehat, apakah finansial perusahaan tetap kuat, dan apakah manajemen tetap bagus dalam menjalankan perusahaan. Tujuanya jelas, supaya perusahaan berkembang dan memberi nilai lebih kepada investor.

Banyak yang mungkin merasa kecil, sekitar 1-3% saja dari harga saham, jadi tidak antusias dalam membeli saham berdividen. Tapi dengan berjalannya waktu, jika perusahaan terus berkembang, maka dividen juga akan semakin besar. Sebagai gambaran saja, sekitar 25% dari kenaikan aset kami di luar injek dana berasal dari dividen.

Mengenai injek dana, alias rutin menabung saham, banyak yang trauma terhadap sehinga tidak mau injek dana secara rutin, dan memberi contoh atau HMSP sebagai kegagalan value investing. Tapi jika mempraktekkan value investing, maka seorang investor tidak mungkin membeli di harga tinggi. Yang membeli di pucuk perlu ditanyakan, bagaimana konsep value investing yang dijalankan. Masalah terbesar dari saham UNVR dan HMSP ataupun yang sejenis, adalah tidak ada growth alias pertumbuhan kinerja. Ini kesalahan terbesar seorang value investor, yaitu tidak memasukkan unsur growth dalam value.

Ini karena ada berbagai statement yang membedakan antara value dan growth investor. Tapi dari Buffett maupun Lynch, dalam value selalu harus ada unsur growth. Jika tidak ada growth, maka value yang diberikan harus lebih kecil. Contoh saja, pemain sepakbola usia muda jelas dihargai lebih dibanding yang mendekati masa pensiun. Tanpa growth siapa yang mau beli mahal-mahal, kecuali yang tidak paham apa yang dilakukan.

Jadi jika kita sudah menemukan metode yang bisa konsisten menghasilkan, tidak ada alasan untuk tidak injek dana. Bahkan dengan injek, berarti perjalanan kita lebih cepat. 10% dari modal 100 juta, jika ada tambahan 10 juta, maka sudah beda 1 juta, yang bisa kita belikan saham lain. Bagaimana dengan nilai lebih besar? Inilah kekuatan bola salju. Di awal terlihat kecil efeknya, tapi semakin lama semakin besar.

Kalau melihat gambar, maka perkembangan portofolio kami juga sama. Terlihat stagnan di awal sehingga tidak menarik, tapi memasuki tahun-tahun berikutnya, semakin besar perkembangannya. Apakah ke depan akan sama perkembangannya, jujur kami juga tidak tahu. Tapi jika melihat yang sudah berhasil, prosesnya adalah sama. Jadi yang perlu kami jaga adalah apa yang kami lakukan harus berada di jalur yang sama juga, bukan justru berlawanan dengan yang sudah terbukti berhasil.

Ini metode kami, belum tentu cocok untuk semua, apalagi kalau mau adu mana yang paling bagus. Jelas selalu ada yang lebih besar perkembangannya. Tapi apakah cocok dan bisa kami jalankan secara konsisten? Belum tentu. Jadi kami sadar batas kemampuan diri, dan tahu jalan yang lain adalah tidak berharga untuk kami. Tidaklah perlu demi penambahan sekian % sampai harus mengorbankan banyak hal yang kita miliki. Nanti di ujung kita juga akan tahu, yang penting cukup makan, bisa tidur nyenyak, dikelilingi keluarga dan teman yang baik, sehat jasmani dan mental, itu sudah cukup. Untuk apa rumah sebesar istana tapi kosong isinya, mobil mewah untuk pamer tapi tidak ada yang lihat dan kita pusing merawatnya.

Dalam buku Psychology of Money banyak membahas tentang ini. Buku bagus yang wajib dibaca oleh semua yang tertarik dan sedang dalam proses mengumpulkan kekayaan. Jika sebagai investor hanya sanggup baca 2 buku, maka buku One Up on Wall Street dan Psychology of Money adalah 2 buku ini.

Ini proses kami selama setahun terakhir, bagaimana ke depan? Apa rencana besar? Apakah akan mencapai bebas finansial? Kami juga tidak tahu. Yang penting apapun yang terjadi, kami harus siap menghadapi. Siapa diri kami, sampai apapun yang kami inginkan, harus diwujudkan dunia, termasuk pas mau beli saham harus turun, pas mau jual saham harus naik. Kami belum sesakti itu. Jadi yang bisa kami lakukan adalah bekerja demi pendapatan semaksimal mungkin, menjaga pengeluaran supaya tidak jebol, dan berinvestasi dengan hati-hati terutama dengan banyaknya godaan aset yang kelihatannya akan menjadi jalan pintas menuju kekayaan.

Sesuai slogan kami : invest long, prosper, and be happy.

error: Content is protected !!
Copy link