Arah IHSG

  • Save

 

Arah IHSG

Setiap hari investor akan bertanya-tanya IHSG akan kemana. Menarik ya, jawabannya cuma ada 2. Naik atau turun. Dengan peluang mendekati 50:50 karena ada kemungkinan kecil IHSG ditutup sama seperti hari sebelumnya, seharusnya ada 50% investor yang akan mendapat untung. Tapi kenyataannya lebih banyak yang mengalami kerugian karena gagal menebak arahnya.

Setelah itu, pasti muncul alasan jangan-jangan saya sudah diincar bandar. Makanya bisa salah. Realistis saja, mana ada teknologi untuk memperhitungkan siapa yang beli dan jual yang bahkan nilainya tidak signifikan. Alasan yang lebih logis, karena berinvestasi itu bukan hanya kerjaan 1 hari. Walau hari ini benar, besok belum tentu. Dan dari statistik, orang bisa saja merasa peluang menebak 2 hari benar adalah 50% + 50%. Faktanya peluang kita hanyalah 50% x 50%, yang berarti cuma 25%. Hari ketiga sisa 12.5%. Jadi semakin bertambah hari, semakin susah menebak lebih banyak benar. Tidak heran orang yang berusaha tiap hari untung pada akhirnya akan bangkrut. Statistik menjelaskan kemungkinannya.

Dengan cara ini, apakah berarti IHSG bergerak secara acak, tergantung lemparan dadu? Tidak juga. Karena jika ini terjadi berarti ada orang-orang yang sedemikian beruntungnya dalam menebak arah bursa dan mencapai posisi orang-orang terkaya di dunia.

Ada 2 alasan yang akan menentukan keberhasilan kita di bursa. Alasan pertama adalah kemampuan kita bertahan di saham terbaik yang ada. Hukum alam, jika kita berada di lingkungan yang baik, dengan sendirinya kita akan mendapat pengaruhnya. Kemampuan berada di lingkungan terbaik balik lagi ke diri sendiri, bagaimana cara pandang kita terhadap investasi itu sendiri.

Alasan kedua. Apa saham terbaik itu. Apakah saham yang naik paling cepat? Ini sering ditanyakan, terutama oleh yang tidak sabaran. Maunya selalu cepat cepat dan cepat. Faktanya, semua investor yang berhasil adalah yang berpegang pada saham terbaik, bukan yang cepat naik turunnya. Bagaimana menentukan saham terbaik dan apakah arahnya sekarang tepat?

Untuk itu, kita bisa melihat lebih besar dan flashback ke belakang. Ekonomi Indonesia mengalami fase turun di 2015, yang diakibatkan oleh pelemahan komoditas dan kenaikan suku bunga. 2 hal yang di tahun 2016 sudah berlawanan, harga komoditas naik dan suku bunga turun. Berarti fase turun ekonomi sudah lewat dan kita sedang menghadapi fase naik.

Seberapa lama fase ini akan berlangsung? Apakah hari ini naik dan besok akan turun? Kita lihat, bottom IHSG ada di akhir 2015 dan sampai hari ini masih posisi naik.  Dan bagaimana dengan global market. Apakah lebih buruk atau lebih baik. Salah satu hal menarik, kita bisa melihat dari penjualan tiket bioskop secara global. Ternyata penjualan tiket untuk Doctor Strange melebihi film Marvel lainnya. Bisa 2 hal, karena film yang bagus atau kekuatan konsumsi yang makin bagus. Kami melihat di alasan kedua, karena walau bagus, jika tidak ada uang, orang juga tidak akan mengeluarkan uang di bioskop. Lebih baik membeli CD bajakan. Untungnya hal ini tidak terjadi, kesadaran menggunakan produk asli semakin tinggi, dan ini menggerakkan ekonomi ke arah atas. Spiral up ekonomi.

Jadi secara global, walau di sana sini ada goncangan, ekonomi global masih doing good. Paling ada sedikit wait and see untuk pilpres Amerika. Tapi sejarah membuktikan, siapapun presiden yang terpilih, pada akhirnya Dow Jones akan naik karena ekonomi dan turun juga karena ekonomi.

Kita lihat lagi ke Indonesia, sebagian perusahaan sudah melaporkan keuangan quartel 3. Dan dari sebagian ini, sebagian besar kinerjanya bagus. Hanya sektor properti yang benar-benar masih lesu. Jadi kemungkinan IHSG akan naik seharusnya lebih besar dibanding kemungkinan IHSG akan turun. Bahkan jika pun nanti IHSG akan turun, sejarah membuktikan, penurunan merupakan kesempatan membeli, yang pada akhirnya akan naik lagi.

Dan posisi Indonesia di daftar ekonomi, semakin bertaji, terlihat dari peringkat yang lumayan jika dibanding negara yang pendapatan per kapitanya lebih besar. Jangan memandang rendah negara sendiri. Walau pun benar kita masih di bawah negara lain, itu hanya berarti kesempatan besar bagi kita yang terlibat untuk mengambil kesempatan dan ikut maju. Indonesia kelaparan, bukalah industri makanan. Indonesia masih bodoh, bukalah industri pendidikan. Indonesia kekurangan baju, bukalah industri pakaian. Indonesia kurang hiburan, bukalah industri hiburan. Di mana ada kekurangan, di situ lah adanya kesempatan. Jangan cuma bisa bilang di situ kadang saya merasa sedih.

Dan supaya kita bisa berada di jalurnya, di saham yang tepat, di industri yang tepat, dan menjadi pelaku kemajuan Indonesia, kita perlu melatih cara pandang yang benar. Dan ini butuh waktu. Seperti kata Doctor Strange ketika ditanya mengapa dia bisa ahli melakukan pembedahan. Jawabannya, karena melalui latihan bertahun-tahun. Bukan melalui ilmu sihir 1 malam.

Dan alasan yang sama mengapa kita suka nya saham gorengan dan sering rugi. Karena pikiran kita bertahun-tahun berlatih dengan cara pandang demikian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
Copy link